Breaking News:

Corona di Indonesia

Anak Usia 12-17 Tahun Boleh Divaksin, Mereka yang Positif Umumnya Tanpa Gejala

Program vaksinasi virus corona (Covid-19) Pemerintah terus berlangsung untuk mencapai kekebalan komunal (herd immunity).

Editor: Karsiani Putri
Shutterstock
Ilustrasi Vaksin Covid-19 - Baru saja beredar surat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait vaksinasi terhadap anak dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun dengan penggunaan vaksin yang diproduksi PT Bio Farma dari 'bulk' vaksin Sinovac 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA- Program vaksinasi virus corona (Covid-19) Pemerintah terus berlangsung untuk mencapai kekebalan komunal (herd immunity).

Selain menargetkan sejumlah kelompok berusia dewasa yang rentan terinfeksi Covid-19, banyak negara telah mencoba untuk melakukan vaksinasi terhadap anak-anak.

Di Indonesia, hal ini  belum direalisasikan karena masih masuk dalam tahap uji klinik.

BACA JUGA: Vaksinasi Covid-19 di Denpasar Dapat Bonus Sayur hingga Minuman, Targetkan 1.000 Orang  

Namun, baru saja beredar surat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait vaksinasi terhadap anak dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun dengan penggunaan vaksin yang diproduksi PT Bio Farma dari 'bulk' vaksin Sinovac.

Dalam surat tersebut, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk memberikan persetujuan penggunaan vaksin pada usia 12 hingga 17 tahun.

"Dari data keamanan uji klinik fase I dan fase II, profil AE sistemik berupa fever pada populasi 12-17 tahun tidak dilaporkan dibandingkan dengan usia 3-5 tahun dan 6-11 tahun," bunyi salah satu poin pertimbangan dalam surat rekomendasi yang diterima Tribun, Minggu 27 Juni 2021.

Selain itu, poin lainnya yang menunjukkan adanya rekomendasi untuk usia 12 hingga 17 tahun terkait dengan sistem imun anak pada rentang usia ini.

"Imunogenisitas dan keamanan pada populasi remaja 12-17 tahun diperkuat dengan data hasil uji klinik pada populasi dewasa karena maturasi sistem imun pada remaja sesuai dengan dewasa."

Selanjutnya, rekomendasi ini juga berdasar pada pertimbangan terkait data epidemiologi Covid-19 di Indonesia yang menunjukkan mortalitas tinggi pada usia 10 sampai 18 tahun sebesar 30 persen.

Dalam surat tersebut, disebutkan pula rekomendasi dosis vaksin untuk usia 12 hingga 17 tahun sebesar 600 SU/0,5 mL (medium dose).

Lalu untuk anak berusia di bawah 12 tahun, perlu dilakukannya uji klinik yang melibatkan jumlah subjek lebih banyak dan bertahap, mulai dari kelompok usia 6 sampai 11 tahun, kemudian dilanjutkan 3 sampai 5 tahun.

"Jumlah subjek pada populasi kurang dari 12 tahun belum cukup untuk memastikan profil keamanan vaksin pada kelompok usia tersebut," jelas pernyataan lainnya dalam surat tersebut.

Kepala Sub Bagian Komunikasi, Informasi, dan Edukasi, Badan POM, Eka Rosmalasari yang dikonfirmasi mengenai surat yang beredar tersebut enggan berkomentar lebih rinci. 

"Rencana ada penjelasan besok, tunggu saja biar semua clear ya," kata Eka.

Kementerian Kesehatan memang tengah mengkaji penggunaan vaksin virus corona untuk usia remaja atau anak usia di bawah 18 tahun.

Rencana itu muncul menyusul banyaknya temuan pasien virus corona usia muda yang mengalami perburukan kondisi.

Tanpa Gejala

Lembaga Bio Molekuler (LBM), Eijkman sudah memeriksa 1.973 sampel pasien Covid-19 yang berusia kurang dari 18 tahun.

Sampel-sampel tersebut diambil sejak periode Maret hingga November 2020.

Dari 1.973 sampel tersebut ada 208 anak positif Covid-19.

Sebanyak 140 anak yang positif tidak ditemukan gejala apapun.

Sedangkan 68 anak lainnya memiliki gejala.

"67,3 persen anak-anak positif Covid-19 tidak menunjukkan gejala. Hanya 32,7 persen pasien positif Covid-19 mempunyai gejala," tulis Eijkman dalam unggahan di akun Instagram resminya @eijkmaninstitute, Minggu 27 Juni 2021.

Gejala yang paling banyak dilaporkan pada pasien anak-anak positif Covid-19, kata Eijkman, diantaranya adalah batuk 57,4 persen, kelelahan 39,7 persen, dan demam 36,8 persen.

Hanya 15 pasien anak-anak yang mempunyai gejala sesak napas, gejala Covid-19 yang paling sering dilaporkan pada orang dewasa.

Pneumonia yang dikonfirmasi oleh X-ray lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 1-5 tahun sebanyak 77 persen dan 6-10 tahun 66,7 persen.

Eijkman menyebut  temuannya ini menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak yang terinfeksi virus Covid-19 tidak mempunyai gejala atau hanya mempunyai gejala ringan. 

Akan tetapi, anak-anak positif Covid-19 mempunyai peran yang sangat besar pada transmisi virus Covid-19 di suatu populasi.

Studi dari LBM Eijkman ini telah dilaporkan di jurnal ilmiah Journal of Clinical Virology Plus.

Kasus infeksi varian Delta juga banyak terjadi pada anak-anak.

Dokter Spesialis Patologi Forensik KSM Kesehatan Anak di RS Cipto Mangunkusumo, Prof Dr dr Rismala Dewi SpA(K) mengatakan, infeksi varian Delta menyebabkan gejala yang sangat bervariasi pada anak.

"Gejalanya (gejala Covid-19 pada anak) memang bisa bermacam-macam tidak khas, tidak banyak yang berhubungan dengan gangguan saluran cerna atau pernapasan," ujar Rismala.

Ia  mengelompokkan beberapa contoh gejala virus corona yang umumnya terjadi pada anak akibat infeksi varian Delta.

Gejala terinfeksi varian Delta pada anak adalah demam, diare,  batuk, pilek, muncul ruam pada kulit.

Selain beberapa gejala itu, MayoClinic menyebutkan, ada juga beberapa gejala Covid-19 pada anak yang umumnya terjadi, sebagai berikut.

Demam, batuk, sakit tenggorokan, sulit bernapas,  kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, mual dan muntah, diare, nafsu makan menurun, kehilangan kemampuan mencium bau dan mengecap rasa, sakit perut.

Jika anak mengalami beberapa gejala Covid-19 seperti yang dijelaskan di atas, Rismala mengimbau kepada orangtua agar tidak memberikan pengobatan sendiri.

Ia merekomendasikan untuk segera menghubungi dokter atau fasilitas layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah.

Sementara, jika anak belum dipastikan terpapar Covid-19, orangtua bisa menjaga anak agar tidak terjadi indikasi gejala yang lebih buruk lagi.

Meski demikian, orangtua sebaiknya tidak membiarkan anak keluar rumah, kecuali kondisi mendesak, seperti untuk pemeriksaan medis. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved