Serba Serbi
Kerajaan Gaib di Selat Bali, Ini Penjelasan Jero Bayu Gendeng
Jero Master Made Bayu Gendeng, penenung Bayu Gana, mencoba menelisik apa yang sebenarnya terjadi di selat Bali
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Banyaknya kapal karam di selat Bali, menjadi musibah yang memilukan.
Pada tahun 2021 saja, sudah ada dua kejadian di selat Bali, yakni tenggelamnya KRI Nanggala 402.
Serta kapal KMP Yunicee yang karam di dekat Pelabuhan Gilimanuk belum lama ini.
Hal itu sontak menjadi tanya tanya besar, apa gerangan yang terjadi.
Baca juga: Nunas Rezeki Hingga Kesembuhan di Pura Goa Peteng Jimbaran Badung
Selain faktor alam dan teknik, masyarakat Bali juga menduga ada faktor niskala yang menyertai.
Jero Master Made Bayu Gendeng, penenung Bayu Gana, mencoba menelisik apa yang sebenarnya terjadi.
Dari sisi magis, praktisi crystal healing ini menjelaskan, bahwa laut di Bali memang dianggap sebagai tempat suci.
Termasuk juga gunung, dianggap sebagai tempat suci di Bali.
“Jadi laut dan gunung di Bali dianggap sebagai tempat yang suci. Oleh karena itu, laut itu harus dijaga kesuciannya,” tegasnya, Rabu 7 Juli 2021.
Tak hanya masyarakat Hindu, namun semua orang harus menjaga kesucian laut.
Berbicara tentang selat Bali, yang dipisahkan oleh lautan.
Dalam hal menjalankan spiritual dan supranaturalnya, para pendahulu dan leluhur Bali sangat menghormati lautan.
“Ada dimensi gaib dan dimensi metafisika yang tak kasat mata berada di lautan. Terutama di laut selat Bali,” jelasnya.
Kisah mitologi pun dipercayai turun-temurun hingga saat ini, seperti kisah Mpu Siddhi Mantra, Dang Hyang Nirartha, begitu juga kisah perjalanan Panca Tirta ke Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ombak-di-pantai-biaung-meluap.jpg)