Sosok Hanoman Merah, Ini Kisah Mistis Cagar Budaya Candi Tebing Jukut Paku

Cagar budaya, Candi Tebing Jukut Paku, di wilayah Desa Singakerja, Ubud, juga memiliki kisah mistis nan unik untuk diungkap.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: M. Firdian Sani
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Suasana cagar budaya Candi Tebing Jukut Paku, di Desa Singakerta, Ubud, Gianyar. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Cagar budaya, Candi Tebing Jukut Paku, di wilayah Desa Singakerja, Ubud, juga memiliki kisah mistis nan unik untuk diungkap.

Suasana hening, sunyi dengan deburan air sungai yang cukup deras.

Cocok menjadi tempat semedi, atau sekadar melepas penat dari rutinitas sehari-sehari.

Menuju lokasi utama cagar budaya, pengunjung diharuskan menuruni anak tangga yang tak terlalu banyak.

Setelah tangga, jalan setapak tanah yang ditumbuhi rumput menjadi jalur menuju lokasi.

Desa Cau Belayu Tabanan Bangun Taman Desa di Sebelah Jembatan Titi Gantung, Hilangkan Kesan Mistis

Terlihat dari atas, tak jauh dari candi akan terlihat payung khas Bali berwarna kuning dan putih.

Lokasi ini memang sakral, sehingga yang datang disarankan membawa kamen dan selendang.

Cagar budaya yang dikelola Banjar Jukut Paku ini, tertata apik dan indah layaknya sebuah taman.

Candi yang merupakan cagar budaya, terletak di bawah tebing berbentuk persegi sebanyak dua buah.

Di antara lubang persegi itu, ada lubang lain memanjang.

Menurut Gusti Made Sudiana, tetua Banjar Jukut paku, lokasi tersebut merupakan tempat singgahnya Rsi Markandeya.

Gerbang Penjagaan Gaib, Jero Bayu Gendeng Sebut Laut Bali Utara Memang Mistis

“Tempat ini juga berkaitan dengan kedatangan Rsi Markandeya pertama kali ke Bali. Ketika sang rsi akan menanam panca datu ke Besakih,” sebut mantan kelihan adat ini, kepada Tribun Bali, Rabu (2/12/2020) di Singakerta, Gianyar. Lokasi ini menjadi tempat singgah, sekaligus pertapaan dan pesayuban Rsi Markandeya. Sebelum melanjutkan perjalanannya, ke Campuhan Ubud, Gunung Raung, dan sebagainya.

“Tempat ini juga berkaitan dengan Pura Penataran Agung Jukut Paku, artinya berkaitan dengan beji lah,” jelas pria yang kini bertugas sebagai sabha desa ini. Dikisahkannya, Rsi Markandeya kala itu membawa bala pasukan dan beberapa pengikutnya sakit. Sampai akhirnya beliau kembali ke Jawa.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved