Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Bali

PPKM Darurat, Luhut Telepon Koster Empat Kali Sehari, Gubernur Bali: Saya Dimonitor Terus

ADA yang menarik dalam rapat pelaksanaan PPKM Darurat di desa/kelurahan dan desa adat se-Bali

Penulis: Ragil Armando | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/Ragil Armando
Gubernur Bali, Wayan Koster sempat mendapat telepon langsung dari Menko Maritim dan Investasi yang juga Koordinator PPKM Darurat, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan alias LBP, Minggu 11 Juli 2021 - PPKM Darurat, Luhut Telepon Koster Empat Kali Sehari, Gubernur Bali: Saya Dimonitor Terus 

Khusus pengendalian Covid-19 secara niskala, Gubernur Koster meminta agar seluruh Bali melaksanakan upacara Ngrastiti Bhakti.

Upacara tersebut dilaksanakan serentak mulai dari tingkat desa hingga provinsi.

Menurut dia, upacara ini dilaksanakan pada 14 Juli 2021 pukul 09.00 Wita.

Menurut gubernur, untuk tingkat desa, upacara tersebut dilakukan di Pura Kahyangan Tiga atau Pura Desa.

Sedangkat tingkat kabupaten/kota bisa menyesuaikan.

Koster mengungkapkan, tujuan upacara ini adalah memohon atau nunas ica agar jagat Bali diberikan kerahayuan, tenteram, tertib, disiplin, guyub, kompak, bersatu dan agar pandemi Covid-19 bisa diatasi secara baik.

Baca juga: PPKM Darurat, Gugus Tugas Covid-19 Bangli Sebut Pengusaha yang Membandel Bisa Dicabut Izin Usahanya

Tanggapan pelaku usaha

Sementara itu, pelaku usaha non esensial di Kota Denpasar memberikan tanggapan beragam terhadap ketentuan PPKM Darurat yang mengharuskan mereka tutup sementara.

Pelaku usaha toko helm di Jalan Nusa Kambangan, Kota Denpasar, Feey (25) mengaku belum menerima sosialisasi dari pemerintah soal penutupan sementara tempat usaha non esensial.

Walau demikian dia cemas mendengar kabar sejumlah toko non esensial mulai ditutup secara paksa.

"Kalau tutup operasional pukul 20.00 Wita memang sudah ada dan kita patuhi. Tutup jam segitu saja sudah membuat pusing, apalagi kalau sampai tutup total berhari-hari," ujarnya, Minggu 11 Juli 2021.

"Kalau memang pemerintah mau menutup total usaha yang dikatakan non esensial itu, ya harusnya ada bantuan untuk kita memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kita dapat uang ya dari bekerja sehari-hari ini, kalau tidak bekerja tidak bisa dapat uang. Penghasilan saja kecil pas-pasan, harus bayar uang kos juga, semakin ditutup ya semakin mematikan," kata Feey.

Hal senada diungkapkan mereka yang bergerak di sektor usaha pelayanan jasa seperti tukang cukur rambut, tukang cuci sepeda motor, dan tukang cuci baju (laundry).

Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui pasti ihwal kategori sektor esensial dan kategori non esensial.

Namun yang mereka khawatirkan usaha mereka yang menjadi satu-satunya sumber pendapatan tutup sementara.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved