Breaking News:

Serba Serbi

Bhuta Cuil, Begini Penjelasannya Dalam Hindu di Bali

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menjelaskan bahwa dalam Hindu di Bali juga mengenal roh gentayangan

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Benjamin Balazs via Pixabay
Ilustrasi - Bhuta Cuil, Begini Penjelasannya Dalam Hindu di Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menjelaskan bahwa dalam Hindu di Bali juga mengenal roh gentayangan.

Dikenal dengan nama Bhuta Cuil.

Sulinggih ini menjelaskan, pada zaman dahulu di Bali dikenal istilah 'Atma Ngumandang' atau roh yang tersiksa.

"Sehingga pada sore menjelang malam, konon ada suara teriakan atau ada yang meminta tolong, ada yang kesakitan," jelas Ida Rsi, kepada Tribun Bali, Selasa 13 Juli 2021.

Baca juga: Palinggih Ratu Gede Mas Mecaling di Pura Er Jeruk Gianyar Sebagai Perlindungan

Suara-suara itu disebut 'Atma Ngumandang' yaitu roh gentayangan karena ada kesalahan dan sebagainya.

Beliau melanjutkan, hal-hal yang menyebabkan roh gentayangan dalam ajaran Hindu disebabkan karena beberapa faktor.

Diantaranya, ulah pati atau mati karena kehendak dirinya sendiri.

Kematian yang disengaja untuk menghilangkan nyawa sendiri, misalnya karena bunuh diri, dengan meracuni diri, menggantung diri, menabrakkan atau menerjunkan diri sendiri agar mati, dan lain-lainnya.

"Nah apalagi kemudian kematian ini, tidak ada yang mengurus atau tanpa ada yang mengupacarakan," tegasnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved