Serba Serbi
Bhuta Cuil, Begini Penjelasannya Dalam Hindu di Bali
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menjelaskan bahwa dalam Hindu di Bali juga mengenal roh gentayangan
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menjelaskan bahwa dalam Hindu di Bali juga mengenal roh gentayangan.
Dikenal dengan nama Bhuta Cuil.
Sulinggih ini menjelaskan, pada zaman dahulu di Bali dikenal istilah 'Atma Ngumandang' atau roh yang tersiksa.
"Sehingga pada sore menjelang malam, konon ada suara teriakan atau ada yang meminta tolong, ada yang kesakitan," jelas Ida Rsi, kepada Tribun Bali, Selasa 13 Juli 2021.
Baca juga: Palinggih Ratu Gede Mas Mecaling di Pura Er Jeruk Gianyar Sebagai Perlindungan
Suara-suara itu disebut 'Atma Ngumandang' yaitu roh gentayangan karena ada kesalahan dan sebagainya.
Beliau melanjutkan, hal-hal yang menyebabkan roh gentayangan dalam ajaran Hindu disebabkan karena beberapa faktor.
Diantaranya, ulah pati atau mati karena kehendak dirinya sendiri.
Kematian yang disengaja untuk menghilangkan nyawa sendiri, misalnya karena bunuh diri, dengan meracuni diri, menggantung diri, menabrakkan atau menerjunkan diri sendiri agar mati, dan lain-lainnya.
"Nah apalagi kemudian kematian ini, tidak ada yang mengurus atau tanpa ada yang mengupacarakan," tegasnya.
Sehingga membuat arwah tersebut kian penasaran atau tersiksa.
Ida Rsi menjelaskan, dalam kepercayaan Hindu di Bali, maka tirta pangentas adalah salah satu usaha atau upaya untuk memberikan jalan pembersihan roh.
Sehingga roh yang gentayangan, atau dalam agama Hindu disebut Preta akan bisa berubah jadi Pitra.
"Petra adalah roh yang terikat oleh material," sebutnya.
Sedangkan Pitra adalah roh yang tidak masih ada keterikatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hantu-perempuan-3.jpg)