Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Bali

Konsumsi Gratis 2 Kali Sehari, Satgas Banjar Bagikan ke Warga Isolasi Mandiri di Denpasar

Wayan Sukra bersama Made Sudra dengan menaiki sepeda motor mendatangi satu per satu warga yang menjalani isolasi mandiri.

Tayang:
Rizal Fanany
Petugas Satgas Covid-19 membagikan konsumsi gratis untuk warga yang menjalani isolasi mandiri di kawasan Desa Sumerta Kelod, Denpasar, Bali pada Rabu 21 Juli 2021 - Konsumsi Gratis 2 Kali Sehari, Satgas Banjar Bagikan ke Warga Isolasi Mandiri di Denpasar 

Untuk Hotel Haris sudah terisi 86 persen dan masih tersisa untuk kapasitas 30 orang.

Sedangkan untuk Hotel Inna masih bisa menampung 50 orang.

Denpasar menemukan ketidaksamaan data jumlah isolasi mandiri (isoman) dengan kondisi di lapangan.

Pasalnya data yang diterima oleh Satgas Covid-19 dengan data yang ditemukan di lapangan saat akan melakukan pengecekan berbeda jauh.

Oleh karenanya, Satgas Covid-19 Denpasar akan melakukan pengecekan lanjutan di lapangan terkait kepastian data ini.

Ketidaksamaan data ini ditemukan saat Satgas Desa/Lurah maupun Banjar melakukan pendataan untuk penyaluran bantuan konsumsi dari Pemkot Denpasar bagi yang menjalani isoman.

Salah satu contohnya yakni di Desa Sumerta Kelod, data yang dimiliki Pemkot Denpasar menyatakan terdapat 98 orang yang menjalani isoman.

Namun setelah dilakukan pengecekan lapangan oleh masing-masing banjar, hanya ditemukan 35 orang.

Terkait hal tersebut, Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara akan benar-benar mengecek kembali di lapangan dengan mengintensifkan Satgas Banjar.

“Di Sumerta Kelod dari Dinas Kesehatan tercatat 98 yang melakukan isolasi mandiri, tapi di lapangan hanya 35 orang. Makanya kami benar-benar lakukan tracing di lapangan,” kata Jaya Negara.

Perbedaan data tersebut bisa saja karena warga tersebut memang memiliki KTP di Denpasar, namun tidak tinggal di wilayah tersebut.

Baca juga: Isolasi Mandiri di Kota Denpasar Dapat Konsumsi 2 Kali Sehari, Konsumsi Dibagikan oleh Satgas Banjar

“Bisa saja KTP-nya di Denpasar dan saat dicek ke alamatnya tidak ada sama sekali. Ini yang juga dari sisi data akan kami benahi biar tidak terkesan Denpasar terlalu tinggi sekali. Kita benahi dengan dukungan data riil di lapangan. Pembagian konsumsi ini juga untuk pengecekan apakah yang bersangkutan dirawat di RS atau di rumah,” katanya.

Selain itu, hal ini juga bisa terjadi karena datanya menggunakan sistem domisili.

“Misal ada yang ngekos. Tahu dirinya positif, langsung kabur. Bisa saja itu. Dan kami akan awasi itu,” katanya.

Sementara itu, terkait perpanjangan PPKM Darurat yang kini berubah nama menjadi PPKM level 3 ini, pihaknya mengaku akan memaksimalkan petugas Satgas hingga tingkat banjar.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved