Corona di Bali
Penderita Covid-19 dengan Kriteria Berikut Boleh Isolasi Mandiri, Apa Saja?
Di balik gagasan isolasi terpusat, ternyata masih ada beberapa warga yang melakukan isoman atau Isolasi Mandiri di rumahnya masing-masing.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Saat ini pemerintah sedang fokus pada kegiatan isolasi terpusat untuk penderita Covid-19 yang memiliki gejala ringan.
Namun di balik gagasan isolasi terpusat, ternyata masih ada beberapa warga yang melakukan isoman atau Isolasi Mandiri di rumahnya masing-masing.
Dokter Umum Puskesmas Banjarangkan 2, dr. I Gusti Ngurah Agung Manik Rucika memberikan penjelasan kriteria pasien Covid-19 yang bisa melakukan isoman beserta panduannya.
Baca juga: Ibunda Amanda Manopo Terpapar Covid-19, Nyaris Stroke karena Terlambat Penanganan
“Untuk isoman memang saat ini kebijakan pusat jadi susah untuk isoman sebenarnya. Karena isolasi terpusat, kita tidak menyalahkan pusat minta isolasi terpusat karena masyarakat kita yang isolasi mandiri itu, agak nakal sedikit kadang dia keluar, itu yang susah."
"Dan membuat wabahnya semakin cepat jadinya. Untuk panduan isolasi mandiri sebenarnya harus ada pemeriksaan dan pengesahan dari dokter gejala covidnya harus jelas,” ungkapnya pada, Jumat 23 Juli 2021.
dr. Rucika juga mengatakan, untuk saturasi oksigen pasien Covid-19 yang melakukan isoman harus di atas 95 persen, selain itu jika pasien masih dapat mengonsumsi makanan, nantinya akan dibuat simptomasis.
Baca juga: Total Masyarakat yang Menerima Vaksinasi Dosis Lengkap Covid-19 di Indonesia Capai 16,9 Juta Orang
Sementara untuk pemberian obatnya akan diberikan sesuai gejala dari pasien Covid-19 yang lakukan isoman tersebut.
“Biasanya kalau dia mual dikasih obat mual, kalau badannya panas kasih obat panas kalau ditambah dengan vitamin boleh, tapi rekomendasi yang paling bagus yang mengandung Zinc."
"Kalau ada batuk tambah obat batuk juga. Biasanya kita follow up karena inkubasi virusnya 3 sampai 5 hari, lalu setelah lima hari kalau ada gejala panas awal nanti hari ketiga sampai kelima ada gejela ikutan seperti anosmia atau kehilangan indra penciuman, indra pengecap juga menurun selain itu ada gangguan buang air besar yang cenderung cair, biasanya itu merupakan gejala awal Covid-19,” tambahnya.
Baca juga: 83.200 Orang Pekerja Bali Kena PHK dan Dirumahkan Sejak Maret 2020, Imbas Pandemi Covid-19
dr. Rucika mengatakan karena saat ini rumah sakit banyak yang alami keterbatasan bed atau kamar perawatan Covid-19, pasien Covid-19 bisa saja melakukan isolasi mandiri di rumah asalkan dengan tertib.
“Untuk pasien Covid-19 yang bergejala rendah bisa melakukan Isoman di rumah saja, tapi dengan pengawasan artinya satu dia harus punya alat oksigen."
Baca juga: BOR 100 Persen Lebih, 68.3 Persen Bed di RSUD Wangaya Digunakan Merawat Pasien Covid-19
"Juga memiliki alat saturasi kalau saturasinya masih bisa dijaga 90 ke atas mungkin masih bisa, kalau turun dari 90 wajib dia mencari faskes ICU untuk rawat inap."
"Kadang susahnya tingkat saturasi antara 85 atau 90 ke bawah biasanya pasien jarang keluhan tapi biasanya sudah susah tidur."
"Kalau mengalami hal tersebut memang harus ada dokter konsultannya. Selain itu pasien juga bisa melakukan beberapa olahraga kecil untuk menjaga saturasinya,” terangnya. (*)
Berita lainnya di Corona di Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-satgas-covid-19-membagikan-konsumsi-gratis-untuk-warga-yang-menjalani-isolasi-mandiri.jpg)