Berita Buleleng
Jenazah Gede Budarsana Dikubur di Buleleng, Keluarga Minta Netizen Hapus Video Korban Saat Dibunuh
Korban pembunuhan di simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Tegal Harum, Denpasar, Gede Budiarsana dikubur
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Korban pembunuhan di simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Tegal Harum, Denpasar, Gede Budiarsana dikubur, di Setra Desa Adat Kubutambahan, Buleleng, Bali, Sabtu 31 Juli 2021 siang.
Prosesi penguburan diikuti keluarga besar almarhum, dengan mematuhi protokol kesehatan.
Ditemui seusai prosesi penguburan, istri almarhum, Ni Made Ira Yanti didampingi kakak ke empat almarhum, Ketut Widiada alias Jero Dolah (37) mengatakan, keluarga telah menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian.
Namun mereka berharap agar para pelaku dihukum seberat-beratnya.
Baca juga: Kasus Pembunuhan di Jalan Subur Denpasar oleh Debt Collector, BAF Buka Suara Berikan Klarifikasi
Sebelum sang suami meninggal, Ira mengaku berulang kali merasakan firasat buruk.
Salah satunya, almarhum sempat bermimpi ditinggal oleh Ira.
Akibat mimpi itu, setiap kali Ira pergi, almarhum Budiarsana selaku mengikutinya.
"Saya bilang ke dia (almarhum Budiarsana, Red) jangan terlalu dipikirkan mimpi itu. Hanya bunga tidur. Tapi setelah dia mimpi begitu, setiap saya pergi selalu diikuti sama dia. Tumben lah dia begitu. Saya juga tidak menyangka kalau itu menjadi firasat," ucapnya.
Selain merasakan firasat lewat mimpi, beberapa hari sebelum meninggal, Budiarsana juga sempat tiba-tiba berperilaku romantis, dengan menyuapi makan wanita yang dikaruniai tiga orang anak itu.
"Dia sempat nyuapin saya juga. Katanya kapan lagi bisa nyuapin istri. Pokoknya sebelum dia meninggal, banyak firasat yang saya rasakan, tapi saya selalu mencoba berpikiran positif," ungkapnya.
Sementara Jero Dolah dengan kondisi kepala yang masih diperban mengucapkan rasa terimakasih kepada Polresta Denpasar, karena dengan cepat berhasil menangkap para pelaku.
Ia kemudian berharap agar istri, dan ke tiga anak almarhun mendapatkan perhatian dari Pemkab Buleleng, minimal agar bisa menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang SMA.
"Sebelumnya yang jadi tulang punggung keluarga itu saya dan adik saya (Budiarsana, Red). Sekarang adik saya sudah meninggal, hanya saya harapan satu-satunya keluarga. Sementara saya juga punya anak lima. Saya berharap sekali pemerintah bisa membantu anak-anak almarhum, biar tetap bisa sekolah," katanya.
Selain itu, Jero Dolah juga berharap kepada warganet agar menghapus video saat adiknya tewas bersimbah darah di simpang Jalan Subur-Jalan Kalimutu, Tegal Harum, Denpasar.
"Kasian anak-anak almarhum masih kecil. Kami khawatir anak-anaknya melihat video itu, dan membuat mereka menjadi sedih. Kami mohon kepada netizen, agar video itu dihapus," harapnya.
Sementara Perbekel Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana mengatakan, pihaknya akan mencoba berkoordinasi dengan Dinas Sosial Buleleng, agar istri dan anak-anak almarhum Budiarsana bisa dimasukkan dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
"Saya akan perhatikan kelangsungan hidup anak-anak almarhum, dengan ditindaklanjuti lewat DTKS," jelasnya.
Baca juga: Sempat Berjumpa dengan Gede Budiarsa Sehari Sebelum Meninggal, Begini Cerita Gede Pasek
Pariadnyana pun tidak memungkiri, sebelum prosesi pemakaman berlangsung, rumah duka sempat ramai dikunjungi oleh kerabat almarhum.
Khawatir terjadi penularan Covid-19, petugas kepolisian bahkan sempat mendatangkan tiga petugas medis berpakaian APD lengkap, untuk melalukan rapid test antigen kepada pelayat yang datang.
"Tidak dipungkiri rumah duka tadi sempat ramai. Satgas sudah mengimbau agar jumlah pelayat dibatasi, tapi karena jiwa sosial orang tinggi, sehingga sempat terjadi kerumunan. Akhirnya Polres turunkan tim medis tiga orang sekitar jam 11. Setelah tim medis turun, akhirnya kerabat almarhum sepakat bubar. Rapid test tidak jadi dilaksanakan," tutupnya. (*).
Kumpulan Artikel Buleleng
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/keluarga-almarhum-gede-budiarsana-saat-menuturkan-firasat-yang-dirasakan.jpg)