IPO Bukalapak Jadi yang Terbesar Sepanjang Sejarah Bursa Saham RI
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, pertama kalinya sebuah perusahaan startup teknologi unicorn secara resmi mencatatkan sahamnya di BEI.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menjadi era baru bagi pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, pertama kalinya sebuah perusahaan startup teknologi unicorn secara resmi mencatatkan sahamnya di BEI.
"Selain itu, dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 21,9 triliun menjadikan IPO Bukalapak sebagai yang terbesar dalam sejarah bursa saham di Indonesia," ujarnya dalam keterangan pers, Jumat 6 Agustus 2021.
Baca juga: Bambang Brodjonegoro Diangkat sebagai Komisaris Utama Bukalapak
Baca juga: PPKM Darurat Diperpanjang 6 Minggu ke Depan, Begini Dampaknya untuk Pasar Saham
Inarno berharap langkah BUKA ini akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan teknologi lain guna semakin meningkatkan kapitalisasi pasar modal tanah air.
“Kami menyambut Bukalapak ke dalam daftar ternama perusahaan publik di BEI. Momen ini merupakan sebuah tonggak sejarah dan era baru bagi BEI," katanya.
Inarno menjelaskan BUKA menjadi perusahaan dengan minat investor terbanyak, tercatat sekitar 96 ribu investor berpartisipasi pada IPO perseroan.
Saham Bukalapak langsung melesat 25 persen bertengger ke level Rp1.060 per saham pada momen pertama kali melantai di bursa.
Mengutip RTIInfokom, asing terpantau melepas kepemilikan senilai Rp132,28 miliar.
Bukalapak menunjuk UBS AG Singapore Branch dan Merrill Lynch (Singapore) Pte. Ltd sebagai Koordinator Global Gabungan dan Agen Penjual Internasional (Joint Global Coordinators and International Selling Agents) untuk memasarkan IPO pada investor internasional.
Sementara itu, PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas ditunjuk sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek (Joint Lead Managing Underwriters).
Adapun Penjamin Emisi Efek adalah PT UBS Sekuritas Indonesia, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, PT Investindo Nusantara Sekuritas, PT Lotus Andalan Sekuritas, dan PT Panin Sekuritas Tbk.
Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira melihat ada euforia berlebihan dengan melejitnya saham Bukalapak.
Padahal saham perusahaan ini masuk ke dalam emiten berisiko tinggi bagi investor fundamental.
"Ada euforia yang berlebihan karena investor retail melihat Bukalapak salah satu unicorn yang valuasinya besar meskipun secara profit belum menghasilkan," ujar Bhima.
Menurut Bhima, investor tidak berharap pada dividen tapi pada kecepatan pertumbuhan harga saham.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/inarno-djajadi.jpg)