Berita Denpasar
PHDI dan MDA Bali Batasi Panca Yadnya, Ini Penjelasan Filolog Sesuai Lontar
Berkaitan dengan pelarangan pelaksanaan Panca Yadnya, oleh PHDI Bali dan MDA Bali selama masa pandemi ini. Adalah bertujuan untuk mengurangi klaster-
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: M. Firdian Sani
Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Berkaitan dengan pelarangan pelaksanaan Panca Yadnya, oleh PHDI Bali dan MDA Bali selama masa pandemi ini.
Adalah bertujuan untuk mengurangi klaster-klaster baru penularan virus Covid-19.
Sejatinya hal ini pun ditulis di dalam lontar-lontar yang ada di Bali.
Berikut penjelasan Filolog Bali dan Jawa Kuna, Sugi Lanus, Jumat 13 Agustus 2021.
Ia mengatakan, bahwa dalam lontar-lontar Bali, melarang pujawali dan ngaben (Sawa Mreteka Wangke) selama ada wabah (pandemi).
• 1.183 Cakep Lontar di UPTD Gedong Kirtya Singaraja Sudah Dialih Aksara
Para leluhur suci di Bali sekitar abad ke XV sudah menjalankan hal-hal yang berkaitan dengan protokol kesehatan. Seperti yang telah digaungkan pemerintah saat ini, dal mengatasi pandemi akibat virus Covid-19.
"Pada masa lalu ketika terjadi wabah, pemegang pemerintahan mengundang pandita, mpu, bendesa, balian usada, untuk mengadakan rapat terbatas dalam rangka merumuskan pararem atau pacingkreman sebagai protokol penanganan wabah. Isinya berupa pembatasan upakara, pengobatan, karantina, penguburan, dan upakara penyucian," sebutnya.
Jejak tertulis pokok-pokok protokol dari masa lalu tersebut, kata dia, terdapat dalam lontar jenis usada dan widhi sastra.
Lontar usada yang mengandung protokol karatina dan pengendalian sosial terkait wabah.
Diantaranya Anda Kacacar, Usada Gede, Usada Ila, Usada Cukil Daki. Lontar jenis widhi sastra yang terkait penanganan wabah, diantaranya Widhi Sastra Swamandala, dan Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi.
• Disbud Buleleng Identifikasi 40 Lontar, Bakal Dilakukan Digitalisasi Mulai Tahun 2022
Protokol Pelarangan Pujawali
Desa Bugbug, Karangasem, misalnya memiliki lontar protokol penanganan wabah cacar, berjudul Anda Kacacar.
Disebutkan pembatasan untuk tidak menyelenggarakan 'salwirning walikrama' (segala jenis perayaan pura atau pujawali). Berikut kutipannya (hal. 1b):
“Ini pedoman sastra untuk diketahui umum, pedoman bagi pelayan Dharma, memuat ajaran kebajikan buddhi (nalar), hendaknya dipahami oleh pemegang pemerintahan, pada saat berjangkit wabah penyakit cacar, ingatlah begini aturannya dunia: Jangan melaksanakan salwirning walikramā (segala macam pujawali), tidak juga melakukan pemujaan dengan weda-mantra di pura-pura, sampai kemudian pulih datang wuku Dungulan (perayaan Galungan),…”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-lontar-jatah-umur-dan-peruntungan-bagi-yang-lahir-kamis-pon-uye.jpg)