Prof Tjandra: Jika Tes PCR Murah, Penularan Covid Mudah Dikendalikan
Perlu analisa yang mendalam mengapa sampai biaya tes PCR di Indonesia begitu mahal.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Mahalnya tarif tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Indonesia menjadi perbincangan hangat belakangan ini.
Jika tarif tes PCR masih mahal, pengendalian penularan Covid-19 akan terus terkendala.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof Tjandra Yoga Aditama menyebut kalau harga tes PCR lebih murah di Indonesia maka lebih mudah untuk mengendalikan penularan Covid-19.
"Kalau harga tes lebih murah maka jumlah tes di negara kita juga dapat lebih banyak sehingga lebih mudah mengendalikan penularan di masyarakat," ujar Tjandra kepada Tribun, Sabtu 14 Agustus 2021.
Baca juga: Masuk dan Keluar Bali Melalui Bandara Harus Swab PCR, Anak Usia Dibawah 12 Tahun Dilarang Bepergian
Baca juga: Penumpang Pesawat dari Bali yang Bawa Hasil Tes Swab PCR Diluar 23 Lab Ini Dilarang Terbang
Tentu, kata Prof Tjandra, perlu analisa yang mendalam mengapa sampai biaya tes PCR di tanah air begitu mahal.
Pengalaman Tjandra sewaktu menjabat Direktur WHO Asia Tenggara dan berkantor di New Delhi, biaya tes PCR 2400 rupee atau Rp 480.000. Waktu itu tarif tes PCR di Indonesia masih sekitar lebih dari 1 juta rupiah.
Pada November 2020 pemerintah kota New Delhi menetapkan harga baru yang jauh lebih rendah lagi, hanya 1200 rupee atau Rp 240.000, turun separuhnya dari yang saya bayar di bulan September 2020.
Lalu turun lagi harga tarif PCR menjadi 800 rupee saja (Rp 160.000) untuk pemeriksaan di laboratorium dan RS swasta.
Baca juga: Terkendala Sarana Penunjang, Alat Tes PCR di RSU Bangli Belum Bisa Dioperasikan
Selanjutnya awal Agustus 2021 ini pemerintah kota New Delhi menurunkan lagi patokan tarifnya, menjadi 500 rupee, atau Rp 100 ribu saja.
Kalau pemeriksaannya dilakukan di rumah klien maka tarifnya adalah 700 rupee, atau Rp 140 ribu rupiah.
Sementara itu tarif pemeriksaan rapid antigen adalah 300 rupee atau Rp 60 ribu rupiah.
Pemerintah kota New Delhi juga meminta agar laboratorium swasta di kota itu dapat menyelesaikan pemeriksaan dan memberi tahu hasilnya ke klien dalam satu kali 24 jam, termasuk juga melaporkannnya ke portal pemerintah yang dikelola oleh Indian Council of Medical Research (ICMR) sehingga ditanya segera dikompilasi di tingkat nasional, mencegah keterlambatan pelaporan, inisiatif yang bagus.
"Tentang perbandingan harga tes PCR dengan India, sebenarnya bukan hal yang baru," kata Tjandra.
Baca juga: Polisi Bekuk Pembuat Surat PCR Palsu, Ada Karyawan Pesan Hasil Positif untuk Bolos Kerja
Tjandra juga menceritakan berdasarkan penuturan seorang temannya dari India mungkin ada subsidi dari pemerintah setempat, sesuatu yang nampaknya barangkali saja terjadi sebagai bagian penanggulangan pandemi.
"Juga mungkin karena ada fasilitas keringanan pajak, yang saya tidak punya informasi yang pasti tentang hal itu. Banyak juga dibicarakan tentang lebih murahnya bahan baku untuk industri. Juga mungkin ketersediaan tenaga kerja yang besar jumlahnya," ujar Tjandra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/prof-tjandra-ui.jpg)