Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serukan Perlawanan, Putra Tokoh Anti-Taliban Minta AS Pasok Senjata

Saya menulis dari Lembah Panjshir hari ini, siap mengikuti jejak ayah saya, dengan para mujahidin yang siap sekali lagi menghadapi Taliban

Editor: Bambang Wiyono
AFP/WAKIL KOHSAR
Tentara AS berjaga saat warga saling berebut untuk melarikan diri ke luar negeri, di Bandara Kabul, Afghanistan, Senin (16/8/2021). Bandara Kabul dilanda kekacauan ketika ribuan orang mencoba melarikan diri dari Taliban yang dilaporkan segera menguasai penuh Afghanistan. 

TRIBUN-BALI.COM, WASHINGTON DC – Milisi Taliban yang sudah menguasai Afghanistan, mulai mendapat ancaman perlawanan.

Putra seorang tokoh anti-Taliban yang terkenal di Afghanistan menyerukan perlawanan terhadap kelompok garis keras tersebut.

Laki-laki bernama Ahmad Massoud tersebut menyatakan, dia memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan yang efektif.

Di sisi lain, dia meminta Amerika Serikat (AS) untuk memasok senjata dan amunisi kepada para milisinya.

Baca juga: Taliban Lepas Tembakan Saat Warga Pasang Bendera Afghanistan, Tiga Orang Tewas

Pernyataan tersebut dituangkannya dalam sebuah op-ed yang diterbitkan The Washington Post pada Rabu (18/8/2021).

Dalam op-ed tersebut, Ahmad Massoud mengatakan AS masih bisa menjadi gudang senjata demokrasi yang hebat dengan mendukung para milisinya.

"Saya menulis dari Lembah Panjshir hari ini, siap mengikuti jejak ayah saya, dengan para mujahidin yang siap sekali lagi menghadapi Taliban," tulisnya.

Ayah Ahmad Massoud bernama Ahmad Shah Massoud. Dia dikenal dengan julukan Singa Panjshir sebagaimana dilansir AFP.

Baca juga: KISAH Mullah Abdul Ghani Baradar, Pemimpin Taliban yang Usir Soviet hingga Negosiator Ulung

Ahmad Shah Massoud memimpin perlawanan yang kuat terhadap Taliban dari bentengnya di lembah sebalah timur laut Kabul. Namun, dia dibunuh Taliban pada 2001.

Terkenal karena pertahanan alaminya, benteng yang terselip di pegunungan Hindu Kush tersebut tidak pernah jatuh ke tangan Taliban selama perang saudara pada 1990-an.

Benteng ini tidak mampu ditaklukkan oleh Uni Soviet satu dekade sebelumnya. Sekarang, itu menjadi pertahanan terakhir Afghanistan yang tersisa.

Ahmad Massoud mengatakan, sebagian milisinya adalah mantan anggota pasukan khusus Afghanistan dan tentara Afghanistan yang jijik dengan komandan mereka yang menyerah.

Baca juga: Diburu Taliban, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Berlindung di Uni Emirat Arab

Sejumlah gambar beredar di media sosial yang menunjukkan mantan Wakil Presiden Afghanistan Amrullah Saleh bertemu dengan Ahmad Massoud.

Keduanya dikabarkan sedangn menyiapkan strategi perang gerilya melawan Taliban.

"Tetapi kami membutuhkan lebih banyak senjata, lebih banyak amunisi, dan lebih banyak persediaan," kata Ahmad Massoud.

Baca juga: Pasrah Dihabisi Taliban, Wali Kota Pertama Perempuan Afganistan: Saya Duduk di Sini Menunggu Mereka

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved