Berita Gianyar
Lomba Layangan di Tebesaya Ubud Digelar Dengan Menerapkan Prokes, Peserta Tak Boleh Keluar Rumah
Masyarakat Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali memiliki cara yang unik dalam menggelar lomba layangan.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Masyarakat Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali memiliki cara yang unik dalam menggelar lomba layangan.
Dimana lomba yang berlangsung di tengah PPKM ini, mereka menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.
Dimana peserta lomba layangan hanya boleh menaikkan layangannya dari rumah, tidak boleh keluar rumah.
BACA JUGA: UPDATE: Polsek Sukawati Masih Menunggu Hasil Autopsi, Pembuang Orok Belum Bisa Dipastikan
Selain itu, peserta yang layangannya atau saat kenaikan layangan berisiko menganggu jaringan PLN, langsung didiskualifikasi.
Ketua Panitia Lomba, I Kadek Surya Wijaya, Minggu 22 Agustus 2021 mengatakan, penerapan PPKM bukan menjadi halangan bagi penggemar layangan untuk mengikuti lomba.
Mengantisipasi kerumunan dan keluar rumah, Lomba layangan yang digelar Sekaa Truna Truni (STT) Sukma Kesuma, Banjar Tebesaya ini melakukannya dengan penerapan protokol kesehatan.
BACA JUGA: Kisah Sri Rintis 'Kripik Biru' yang Populer di Bali, Khas Berbahan Kepala dan Leher Ayam
Yakni, seluruh peserta yang sudah masuk dalam medsos grup diwajibkan menaikkan layangan dari rumahnya masing-masing dengan menggunakan tiang bambu.
Layangan yang dilombakan pun hanya jenis 'Celepuk' yang relatif stabil dan menghindari resiko gangguan terhadap fasilitas umum.
Kata Surya, lomba layangan ini digelar serangkaian perayaan Hut RI ke-76 dan juga Hut STT Suksma Kesuma.
Pihaknya mencoba mengkemas lomba ini dengan konsep lomba dari rumah atau pekarangan.
Karena jika dilombakan dalam satu lokasi sebagaimana lomba umumnya, protokol kesehatan Covid-19 sulit diawasi.
"Kami mencoba memberi ruang kepada teman-teman untuk tetap bisa menjalankan hobinya di tengah PPKM ini, namun ada jaminan prokes Covid-19 dilaksanakan," ujarnya.
Lebih jauh dikatakannya, melihat karakter angin di daerah pemukiman yang tidak begitu kencang, pihaknya pun hanya memilih layangan celepuk untuk dilombakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/layangan-celepuk-mengudara-di-langit-ubud-minggu-22-agustus-2021.jpg)