Cerita Mistis Seputar Patung Bayi Sakah di Gianyar yang Banyak Membuat Penasaran 

Cerita itu menjadi rahasia umum, dan kini masyarakat memercayai bahwa patung ini sakral dan memiliki sisi mistis tersendiri.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali
Patung bayi di simpang tiga Jalan Raya Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali 

Agar dibangun patung, oleh seniman yang ada di wilayah Gianyar.

"Mengapa hadir patung seperti wujud beliau (bayi)," kata jero mangku.

Ia kemudian menjelaskan, awalnya ada pro-kontra diantara seniman saat membuat patung yang cocok di wilayah tersebut.

"Saat itu, ada rencana mendirikan patung cerita pewayangan Ramayana atau Mahabhrata. Kemudian ada usulan mendirikan patung tokoh pahlawan," katanya.

Namun karena tidak menemui jawaban yang pasti, dan selalu ada perdebatan. Sehingga lama-kelamaan tidak ada titik terang.

Akhirnya, kata dia, ada seorang pintar yang mendapatkan wahyu bahwa di lokasi tersebut cocok didirikan adalah patung bayi atau disebut Arca Brahma Lerare.

Jero mangku menjelaskan, Arca Brahma Lelare ini tidak pula langsung jadi.

Sebab diperlukan sampel-sampel terlebih dahulu untuk melihat bentuk, gaya, model dan sebagainya yang cocok dan pas.

Setelah 63 kali percobaan, patung yang saat ini terpasang merupakan hasil akhir dari semua percobaan atau proses sampel. Tentunya jangka waktu yang dibutuhkan tidaklah sebentar.

Pembuatnya adalah Sugata dari Blahbatuh. Perlu diketahui, bahwa patung bayi Sakah adalah prebawa dari Siwa-Budha.

"Maksudnya adalah perkawinan antara Siwa dan Budha, dimana Siwa perlambang laki-laki dan Budha perlambang wanita," katanya.

Melahirkanlah Brahma Lelare, dan banyak sebutan lainnya termasuk sebutan Budha Rulai.

"Beliau (patung bayi) Sakah, dimana kata sakah yang berasal dari saka dan artinya pilar. Kemudian ah adalah tidak ada pangkal dan ujung," jelasnya.

Letak patung bayi ini, ada pada titik sentral yang diyakini adalah titik dengan kekuatan niskala di Bali.

Atau sumber sentral kekuatan alam, dan menguasai semua arah mata angin.

"Saya tetap nunas ica, agar semua umat diberikan kekuatan, keselamatan, dan kesehatan lahir-batin," sebutnya.

Terkait dengan banyaknya pamedek yang hadir yang patung bayi tersebut untuk bersembahyang.

Dijelaskannya adalah memohon keselamatan, serta dominan nunas ica bagi suami istri yang telah lama kawin namun belum memiliki keturunan. (ask)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved