Breaking News:

Berita Denpasar

Kepala BKSDA Bali Pastikan Owa Siamang Milik Bupati Badung Dimiliki Secara Ilegal

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali R. Agus Budi Santosa memastikan Owa Siamang yang diserahkan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta

Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Karsiani Putri
Adrian Amurwonegoro
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali R. Agus Budi Santosa 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali R. Agus Budi Santosa memastikan Owa Siamang yang diserahkan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta dimiliki secara ilegal.

"Kalau legal pasti saya tahu, yang saya bisa pastikan itu ilegal, itu aslinya tidak dari Bali bukan habitat endemik Bali. Tidak ada binatang itu bisa hidup di alam liar di Bali. Di Bali tidak ada jenis itu," tegas Agus saat jumpa pers di Kantor BKSDA Bali, Denpasar, Bali pada Rabu 15 September 2021.

"Namun kita pastikan kembali apakah betul barang itu dari luar Bali apakah jangan-jangan sudah ada di Bali sejak induk-induknya lahir di Bali, itu yang kita pelajari lebih lanjut belum bisa saya sampaikan hari ini," imbuhnya.

Satwa ini dilindungi Undang-Undang berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi.

BKSDA Bali mendapat laporan informasi dari Jakarta bahwa ada warga di Bali yang tak lain ialah Bupati Badung Giri Prasta memelihara Owa Siamang dan agar menindaklanjuti.

"Kemarin sore saya mendapat berita dari Jakarta ada salah satu warga Bali memelihara satwa liar dilindungi, saya hubungi pagi-pagi belum diangkat, kemudian beliau menghubungi kami sekitar jam 9 pagi tadi katanya sudah on the way ke kantor kami untuk menyerahkan Mimi (Owa Siamang, red), setengah 11 siang ada prosesi membawa si Mimi diserahkan ke BKSDA Bali," ucapnya.

Agus menyampaikan bahwa fokus BKSDA Bali saat ini adalah menyelamatkan Owa Siamang tersebut dan melakukan evaluasi.

Sebelum dilaksanakan translokasi satwa tersebut ke Provinsi Sumatera Barat, kata Agus terlebih dahulu dilaksanakan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan bahwa satwa tersebut dalam kondisi sehat.

"Kita menunggu pendapat dari dokter hewan, dan teman di karantina hewan untuk hasil analisa feses dan darah, rencananya besok pagi kita ambil. Saya tidak bisa sampaikan tentang umur karena nanti dokter hewan yang melakukan penelitian kesehatan, umur, jantan betinanya," ujar dia.

"Sesuai dengan Peraturan Perundangan yang berlaku, satu ekor Owa Siamang tersebut akan dilepasliarkan di habitat aslinya di Provinsi Sumatera Barat dengan terlebih dahulu dilakukan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Owa di Kalaweit Sumatera Barat untuk dia belajar kembali hidup di habitatnya di alam liar," jabar Agus.

Baca juga: Bali Turun Level, Gubernur Koster Ingatkan Penguatan Protokol Kesehatan pada PPKM Level 3

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved