Breaking News:

Berita Klungkung

Petani Rumput Laut di Nusa Lembongan Klungkung Disarankan Atasi Hama dengan Sistem Tumpang Sari

petani rumput laut pun diharapkan menerapkan sistem tumpang sari dengan mengembangkan kerang abalon.

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Budidaya rumput laut di Nusa Lembongan, Selasa (21/9/2021). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Keberadaan lumut selama ini menjadi masalah dalam budidaya rumput laut di Nusa Lembongan.

Lumut dianggap menjadi hama yang dapat merusak perkembangan rumput laut.

Mengatasi masalah ini, petani rumput laut pun diharapkan menerapkan sistem tumpang sari dengan mengembangkan kerang abalon.

Salah seorang petani rumput laut di Lembongan, I Nyoman Muliastika mengungkapkan, perkembangan rumput laut di Lembongan sekarang ini hasilnya tidak begitu bagus.

Baca juga: Cari Tahu Penyebab Banjir di Desa Kusamba, Dinas PU Klungkung Akan Libatkan BWS Lakukan Penelusuran

 Hal ini  disebabkan karena ada banyak lumut yang menyerang rumput laut petani.

 Proses panen saat ini membutuhkan waktu selama 25-30 hari.

“Hasil perkembangan panen sekarang tidak begitu maksimal. Biasanya panen setiap 30 hari sudah besar rumput lautnya, tetapi sekarang masih kecil.

Padahal untuk penjualannya sekarang mengalami peningkatan, sebelum Covid-19 harganya 14 ribu sekarang 16 ribu,” ungkapnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Dewa  Ketut  Sueta Negara dikonfirmasi menjelaskan, lumut dan penyakit ice-ice sudah menjadi masalah bagi kalangan petani rumput laut sejak lama.

Munculnya lumut disebabkan karena kotoran atau situasi tambak yang kotor.  

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved