Serba serbi
Keseimbangan Alam Semesta, Pentingnya Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang Dalam Hindu Bali
Sudah sejak lama umat Hindu mengenal dan merayakan hari suci, dengan menghaturkan ritual yadnya serta bebantenan (upakara) di Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Kemudian implementasi nilai dalam hubungan manusia dengan sesama manusia, adalah dalam bentuk sesajen persembahan yang ditujukan kepada Tuhan atau para dewa (Widhi Widana).
Terlihat saat dalam pelaksanaan upacara agama Hindu di Bali, dilakukan dengan cara gotong-royong.
Hal ini tercermin dalam kehidupan sosial, yang diikat dengan sistem adat atau desa pakraman. Dimana umat Hindu melaksanakan upacara agama bersama-sama.
Bergotong-royong saling membantu mengerjakan tugas hingga selesai. Semuanya memiliki tugas dengan keahliannya, seperti tukang sekaa gong mengambil peran menabuh gamelan.
Tukang banten mengambil peran membuat, dan mengatur, serta menata banten atau upakara (sesajen).
Lalu ada sulinggih dan pemangku, yang berperan memimpin upacara yadnya. Dan peran serta semua elemen masyarakat di dalam sebuah desa adat (pakraman) ataupun banjar.
Hal inilah yang mencerminkan hubungan antara sesama manusia.
Dengan harapan semuanya menjadi mudah dengan bekerjasama, dan tercapailah kebahagiaan itu. Kemudian sumber kebahagiaan lainnya terletak pada hubungan manusia dengan alam lingkungan.
Hal inilah yang tercermin dari perayaan hari suci Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang. Termasuk pula perayaan upacara Bhuta Yadnya.
Perayaan hari suci Tumpek Panguduh atau Tumpek Wariga, yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wariga bertujuan mendoakan keselamatan dan kesuburan tumbuh-tumbuhan.
Sebab tumbuh-tumbuhan adalah salah satu sumber kehidupan mahluk hidup di muka bumi ini. Sehingga dipercaya saat hari suci Tumpek Wariga ini, umat Hindu pantang memotong atau menebang pohon kayu. Sebab hari tersebut adalah hari penghormatan bagi tumbuh-tumbuhan.
Apalagi tumbuh-tumbuhan adalah salah satu ciptaan-Nya. Kemudian ada pula hari suci Tumpek Kandang, yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Uye.
Hari suci ini ditujukan sebagai penghormatan dan doa kepada para hewan dan binatang, termasuk binatang peliharaan. Sebab binatang pula adalah ciptaan Tuhan. Serta menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
Umat Hindu di Bali juga sangat menghormati sekala-niskala, baik dunia nyata dan metafisika (gaib). Mahluk halus atau bhuta ini juga patut dihormati. Sebab mereka pula ciptaan Tuhan.
"Sekalipun bhuta tersebut diyakini memiliki energi negatif dan destruktif," jelas profesor ini.