Berita Bali
Yama dan Nyama Brata, Berikut Sasana Seorang Sulinggih
Sulinggih adalah orang suci dan disucikan dalam ajaran agama Hindu di Bali dan Nusantara, berikut sasana seorang sulinggih
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sulinggih adalah orang suci dan disucikan dalam ajaran agama Hindu di Bali dan Nusantara.
Sebab seorang sulinggih telah madwijati, atau lahir untuk kedua kalinya.
Lahir pertama melalui rahim sang ibu, kemudian lahir kedua melalui guru nabe dalam proses diksa.
Tentunya karena merupakan orang suci, maka seorang sulinggih harus memiliki dan mengikuti sasana kesulinggihan.
Baca juga: Kisah Ida Pedanda Gede Genitaen Sanur Saat Masih Walaka hingga Menjadi Sulinggih Semasa Hidup
Dimana banyak sekali pantangannya, salah satunya adalah maraga putus dari berbagai hal keduniawian.
Dalam kitab Silakrama dirumuskan apa saja yang patut dilakukan, dan apa yang patut dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
Diantaranya adalah mengamalkan Yama Brata, Nyama Brata, Dasa Dharma, Catur Paramitha, Tri Kaya Parisudha, dan masih banyak hal lainnya.
Yama Brata adalah pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin.
Yang termasuk di dalamnya, adalah Ahimsa atau tidak menyiksa dan menyakiti hati sesama mahluk hidup.
Kemudian ada Brahmacari, yakni tekun menuntut ilmu, selalu berusaha mengisi diri.
Lalu Satya, artinya setia pada segala hal. Setia juga untuk menuju kebenaran (Dharma).
Ada Awyawaharika, yaitu tidak berjual beli, yang artinya sulinggih dilarang berdagang.
Dan terakhir, Asteya yang artinya seorang sulinggih dilarang mencuri termasuk menipu.
Selain Yama Brata, ada juga ajaran Nyama Brata.
Baca juga: Sulinggih Lebar, Berikut Prosesi Pelebonnya dalam Masyarakat Hindu Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-rsi-bhujangga-melakukan-puja-dalam-upacara-caru-bayuh-bumi.jpg)