Berita Badung

Virus ASF Mereda, Populasi Babi di Badung Mulai Meningkat

Peningkatan populasi babi di Badung lantaran dilakukan peternak babi melakukan restocking untuk menjaga populasi babi

Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Wema Satya Dinata
Dokumen Tribun Bali
Salah satu peternak Babi di Badung saat membersihkan kandangnya 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Populasi Babi di Badung sudah mengalami peningkatan pasca adanya virus African Swine Fever (ASF) yang menyerang babi pada tahun 2020 silam.

Peningkatan populasi babi di Badung lantaran dilakukan peternak babi melakukan restocking untuk menjaga populasi babi.

Dinas Pertanian dan Pangan Badung mencatat kini jumlah babi di Badung sebanyak 22.310 dari sebelumnya mencapai 69.626 ekor pada tahun 2019.

Namun pada tahun 2020 Babi di Badung banyak yang mati secara mendadak.

Baca juga: Stok Babi Jelang Hari Raya Galungan di Badung Mencukupi, Lebih 50 Persen dari Jumlah yang Dibutuhkan

Besar dugaan babi mati terkena virus ASF tersebut.

Selain Badung, Kabupaten lain di Bali juga mengalami hal yang sama yang mengakibatkan peternak babi di Bali mengalami kerugian total.

Kasus babi mati mendadak sebelumnya terjadi di Sumatera Utara pada tahun 2019 silam.

Hingga pada akhir 2019 kasus di Bali pertama kali muncul di sentra peternakan babi yang berada di daerah Suwung Denpasar.

Bahkan diindikasikan sentra peternakan tersebut memanfaatkan limbah hotel, restoran maupun bandara sebagai sumber pakan ternaknya tanpa melalui proses pemasakan yang baik dan benar terlebih dahulu.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung, Wayan Wijana saat dikonfirmasi Minggu 31 Oktober 2021 tak menampik hal tersebut.

Pihaknya mengaku bahwa saat adanya virus dari 69.626 ekor babi di Badung habis menjadi 14.136 ekor.

"Jadi jumlah populasi babi di Badung berdasarkan Sensus Ternak tahun 2019 cukup besar yakni 69.626 ekor. Namun akhir 2019 hingga tahun 2020 babi banyak yang mati hingga 1.140 ekor babi yang tercatat mati," katanya.

Kendati demikian, saat itu populasi Babi di Badung menurun drastis. Bahkan peternak ada yang menjual murah babinya, dan ada juga yang di potong sebelum terkena virus.

Namun dengan dilakukannya restocking hingga akhir tahun 2020 jumlah populasi babi di Badung mencapai 14.136 ekor.

Baca juga: Jelang Hari Raya Galungan, Stok Daging Babi di Gianyar Diprediksi Sudah Melebihi Kebutuhan

"Nah kini dari 14 ribu ekor itu sudah nambah menjadi 22.310 ekor populasi babi di Badung. Sehingga kita harap terus bertambah sesuai dengan data sebelumnya," ucapnya.

Pihaknya mengatakan kasus babi mati menurun terjadi pada Maret 2020. Namun saat itu dirinya mengaku tetap melakukan edukasi agar virus tersebut tidak menyebar lebih luas lagi.

Selain itu pula juga memberi petunjuk penanganan bangkai babi agar tidak mencemari lingkungan.

"Saat itu sampai sekarang kita gencarkan peternak untuk menerapkan biosecurity seperti menjaga lalu lintas orang, memantau dan menjaga lalu lintas barang dan hewan. Sehingga virus tidak mudah masuk ke dalam kandang. Bahkan sesekali melakukan penyemprotan pembersihan kandang," tegasnya.

Mantan Kabag Organisasi dan Tata Laksana Setda Badung itu mengatakan di kabupaten Badung yang sudah terdata ada sekitar  sekitar 160 peternak Babi.

Sehingga beberapa peternak babi tersebut di pastikan akan mampu meningkatkan populasi.

Selain itu, Wijaya menjelaskan di kabupaten Badung juga terdapat puluhan sentra ternak babi yang tersebar di wilayah kecamatan Mengwi dan Abiansemal.

Dirinya mencatat ada 30 setra ternak di wilayah tersebut, dengan rincian 14 di wilayah Mengwi dan 16 di wilayah Abiansemal.

"Kalau sentra ternak  jumlah pemeliharaannya sebanyak 100 ekor lebih. Bahkan mereka ini baru kembali lagi beternak, sehingga stok juga terbatas. Dulu kan peternak kita was-was memelihara babi kembali, pasca virus yang mengakibatkan babi banyak mati itu," katanya.

Dirinya mengatakan beberapa peternak di Badung sudah melakukan restocking dari awal tahun 2021.

Baca juga: Sempat Vakum, Babi Guling Legend Dong Keplus Gianyar Bangkit Lagi, Buka di Malam Hari

Hanya saja untuk babi yang siap potong jumlahnya tidak banyak jika dibandingkan dengan sebelum adanya virus. Hal itu pula yang mengakibatkan harga Babi kini masih tinggi.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, di Badung sempat digegerkan dengan kasus kematian babi yang tinggi.

Ribuan babi mulai indukan dan anakan mati secara tiba-tiba. Bahkan disinyalir kematian babi tersebut karena adanya Virus ASF. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved