Berita Denpasar
Sang Hyang Kala Tiga Galungan, Tetap Hati-hati Saat Ia Turun
Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa sebelum hari suci Galungan maka akan ada godaan dari Sang Hyang Kala Tiga yang turun ke dunia.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
Hari Selasa Wage Dungulan disebut hari penampahan Galungan.
Hari Penampahan Galungan ini, kata Ida, ditandai dengan pemotongan hewan.
Sedangkan umat Hindu diharapkan, pagi tersebut menghaturkan daging jejeron di natar merajan, natar rumah dan di lebuh agar sang Bhuta Tiga Galungan dalam hal ini Sang Bhuta Amangkurat tidak menggoda dan kembali ke alamnya.
Sedangkan saat itu, atau saat penampahan Galungan dilakukan odalan pada palinggih penunggu karang, berupa haturan nasi roongan (nasi penek besar) sebanyak 4 buah ditambah dengan ulam karangan.
Palinggih penunggu karang adalah palinggih untuk Sang Kala Maya (setingkat picasa).
Sehingga haturan tersebut ditujukan untuk sang picasa yang bernama Sang Kala Maya.
Tujuannya agar Sang Bhuta Kala tidak menggoda kehidupan manusia.
Sedangkan pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, ini puncak dari rahinan jagat dan yang sangat disucikan yang disebut hari raya Galungan.
"Apabila kita bisa melewati godaan dan gangguan musuh dalam diri kita berupa kemarahan, kedengkian, kekecewaan kedurhakaan, keserakahan, keegoan serta hal-hal yang bersifat negatif lainnya. Maka barulah kita bisa mengatakan kita sudah menang, atau Dharma menang melawan Adharma," ucap beliau.
Namun sebaliknya, ketika belum bisa mengalahkan hal-hal yang negatif dalam diri maka tentu saja belum berada pada kemenangan.
"Bahkan kita masih dalam kondisi kekalahan. Oleh sebab itu kita sebagai umat Hindu yang memegang teguh tradisi leluhur yang sangat adiluhung, dituntut harus selalu mawas diri, dapat selalu instrospeksi agar sifat-sifat negatif (Adharma) dalam diri, betul-betul sirna dan segala godaan dari Sang Hyang Kala Tiga Galungan tidak lagi mempan menyusupi diri kita," sebut beliau.
Sehingga hari Raya Galungan betul-betul menjadi hari kemenangan Dharma melawan Adharma.
"Untuk itu kepada umat sedharma diimbau agar berhati-hati di saat Sang Hyang Kala Tiga Galungan turun, karena ketiga bhuta tersebut berusaha selalu menjebol dan mengganggu iman manusia, sehingga gagal mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan," tegas Ida Rsi.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-raksasa-dari-neraka.jpg)