Breaking News:

Serba Serbi

MAKNA Penjor, Sarana Wajib saat Hari Raya Galungan dan Kuningan sebagai Lambang Kemenangan Dharma

penjor diyakini sebagai lambang wujud gunung tertinggi yang merupakan tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya

Tribun Bali / Rizal Fanany
Sejumlah penjor berukuran besar terpasang di Kawasan Munggu,saat hari raya Galungan dan Kuningan, Rabu (30/5/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Penjor termasuk perlengkapan upacara dan upakara Hari Suci Galungan, yang memiliki posisi sakral dan disucikan.

Oleh karena itu, pembuatan dan pemasangannya tidak boleh sembarangan dengan tujuan agar penjor yang bernilai suci ini tetap suci, serta sebagai salah satu bagian upacara dan upakara dalam mengagungkan kekuatan dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi-Nya.

Menurut perhitungan kalender Bali, bahwa hari suci Galungan untuk tahun 2021, jatuh pada hari Rabu,10 November 2021 dan bertepatan pada Buda Kliwon Dungulan.

Hari suci Galungan, menurut tradisi umat Hindu di Bali setiap 6 bulan sekali yang sering disebut rerainan jagat (piodalan gumi).

Baca juga: Makna Pemasangan Penjor di Lebuh Serta Makna Kelengkapan Penjor

Jero Mangku Ketut Maliarsa mengatakan salah satu perlengkapan merayakan hari suci Galungan para umat Hindu di Bali adalah penjor.

Oleh karena itu, penjor diyakini sebagai lambang wujud gunung tertinggi yang merupakan tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.

Di samping itu, gunung juga dipercaya memberi kesejahteraan, kesuburan dan sumber kebahagiaan bagi hidup umat manusia.

Sarana upacara penjor terdiri sebatang bambu, sepanjang kurang lebih 10 meter dengan ujungnya melengkung ke bawah.

Hal itu, sebagai simbol Rwa Bhineda yaitu ada Dharma dan Adharma, atau baik dan tidak baik.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved