Berita Gianyar
Tradisi Penambahan Kuningan, Krama Patas Tegalalang Gianyar Hanya Mebat Pentol
Dimana persembahan mereka ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi berupa olahan babi dalam bentuk pentol atau mereka menyebut calon.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Noviana Windri
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Tradisi dan budaya masyarakat di Bali, dalam menjalankan swadharmanya sebagai umat, selalu menjadi perhatian.
Pasalnya, meskipun dinaungi dalam keyakinan yang sama, yakni Sang Hyang Widhi Wasa.
Namun bentuk persembahan yang dilakukan terkadang tidak sama.
Seperti halnya saat Hari Raya Kuningan, di Banjar Patas, Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali.
Dimana persembahan mereka ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi berupa olahan babi dalam bentuk pentol atau mereka menyebut calon.
Baca juga: Hari Raya Kuningan, Umat Hindu Disarankan Mebanten Sebelum Siang, Ini Penjelasannya
Baca juga: Jelang Hari Raya Kuningan Harga Cabai dan Bawang Putih Meningkat, Cabai Merah Kini Rp35 Ribu Per Kg
Baca juga: Berikut Ini Upacara Saat Wuku Kuningan di Bali
Karena hal tersebut, saat Hari Penambahan Kuningan atau sehari menjelang Hari Raya Kuningan, mereka hanya 'mebat calon'.
Tidak seperti di Penampahan Galungan, mereka membuat persembahan berbagai bentuk dengan bahan utama daging babi.
Sementara di Hari Raya Kuningan ini, mereka tetap menggunakan bahan utama babi.
Namun bentuk persembahan dagingnya dalam bentuk pentol.
Menurut warga setempat, mebat calon untuk ulam bhakti ini sudah berlangsung secara turun temurun, dan hanya dilakukan setiap menyambut Hari Raya Kuningan, oleh sebagain besar Warga Adat Banjar Patas.
Calon ini disajikan di setiap tandingan banten yang ditempatkan dalam sebuah takir, biasanya juga dilengkapi dengan daging babi yang di goreng ( be gorengan ).
Tokoh krama setempat, I Made Karta mengatakan, persembahan awal biasanya dilakukan usai mebat dalam banten sode.
"Warga di sini mengawali persembahan untuk banten mesoda, selesai mebat dimasing-masing rumah," ujarnya.
Baca juga: Berikut Ini Upacara Saat Wuku Kuningan di Bali
Baca juga: Lahir Kamis Pon Kuningan, Umur Capai 90 Tahun, Hemat
Baca juga: Umat Hindu Bersiap Rayakan Kuningan, Jejahitan Dipilih Warna Kuning, Berikut Maknanya
Kata dia, untuk jenis ebat atau ulam Bhakti, memang lebih ringan dibandingkan saat Penampahan Galungan, yang harus membuat seperangkat sate.
Namun demikian, warga tetap memaknai sama dengan saat perayaan Galungan sebelumnya.
"Ini sudah kami warisi secara turun temurun, kami hanya tinggal melanjutkan warisan saja. Dan memang, dengan ulam bakti calon ini, kami lebih ditingkatkan. Namun tetap, kami memaknai sama seperti perayaan Galungan," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/membuat-ulam-calon-untuk-perayaan-hari-raya-kuningan-jumat-19-november-2021.jpg)