Breaking News:

Berita Bali

Data LBH Bali Ungkap 42 Kasus Pelecehan Seksual Terjadi di Unud pada 2020

Direktur LBH/YLBHI Bali Ni Kadek Vany Primaliraning mengatakan awal mulanya menemukan kasus tersebut ketika pihaknya membuka posko pengaduan terkait

Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Direktur LBH/YLBHI Bali Ni Kadek Vany Primaliraning 

Namun waktu itu ditolak, mereka tidak mau menandatangani agreement. Mereka mengatakan akan melakukan diskusi, lalu menyelesaikan pelaporan kasus.

"Hanya itu saja yang disanggupi oleh mereka, tapi kemudian data yang besar ini, terus yang mendorong sistem itu, sebenarnya ada dua ya, advokasi kasus sama advokasi by data ini, nah by data ini kemudian tidak diindahkan atau tidak dihiraukan sebagai suatu hal yang urgent juga gitu.

Jadi kemudian tidak tersepakatilah kemudian bagaimana konsesiten dari pihak kampus untuk membuat semacam sistem perlindungan di sana, tidak selesai gitu," paparnya.

Dan hingga saat ini pun ia mengatakan masih belum menemukan kejelasan terkait dengan sistem penyelesaian kasus yang pernah dibawa ke Rektorat.

Termasuk juga dengan data ini, yang ingin sampaikan itu juga tidak jelas sistemnya, dalam artian tidak jelas apakah akan dibentuk sistem perlindungannya padahal datanya juga lumayan banyak.

Baca juga: Kasus Pelecehan Seksual Diungkap dengan Survei, Rektor Unud Ambil Langkah Hukum jika Tak Terbukti

"Nah ini gambaran dan hari ini, kita juga dengan pergantian rektor terus kemudian juga ada Permendikbud, nah ini juga menjadi gambaran gitu apakah kemudian Udayana kemudian akan mengambil sikap serius terhadap pelaku kekerasan seksual itu dilatarbelakangi dengan data data bahwa Unud punya catatan seperti itu atau kemudian ini hanya desakan akreditasi dalam kaitannya Permendikbud tersebut," sebutnya.

Sementara itu, Akreditasi untuk mengubah sistem, menurutnya kalau itu hanya sekadar sebuah sistem saja. Ini akan menjadi bermasalah karena kemudian ini sistem yang dibikin tidak melindungi korban, tapi hanya sekadar formalitas.

Sebenarnya data itu dalam advokasi LBH dan bisa dikatakan penting. Dalam artian kekuatan data itu kan untuk mendorong adanya sistem yang berubah.

"Kita bilang kekerasan seksual, itu di kampus. Nah itu kita tidak bisa tutup mata, itu dari tahun ke tahun seperti itu, tapi kemudian tidak ada perubahan, tidak ada sistem yang diubah gitu. Nah itu kan one by one, satu orang, satu orang, jadi kesannya tidak ada kepedulian, nah kalau memang sistem nah itu bukan lagi kepedulian, bukan lagi kemudian berjuang sendiri tapi kemudian ada perlindungan yang jelas yang dibikin pihak kampus untuk melindungi korban tersebut," jelasnya.

Sebenarnya ini menarik ketika data, sudah ada sejak awal dan ini juga sempat terpublikasi tapi kemudian tidak ditindaklanjuti secara serius dan menurutnya, kebetulan ada momentum yakni terbitnya Permendikbud yang kemudian ini harus menjadi alasan serius bagi pihak kampus termasuk untuk membuat sistem perlindungan kekerasan seksual di kampus.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved