Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

KEGALAUAN GADIS BALI YANG MENCARI SENTANA

Keberhasilan program Keluarga Berencana menjadikan usaha sebuah keluarga maupun anak gadis Bali untuk mencari sentana sangat sulit.

Tayang:
Penulis: Bambang Wiyono | Editor: Bambang Wiyono
sman1selemadeg.sch.id
KADEK NOVINDA LISTYAWATI 

Lebih-lebih ada celotehan di masyarakat -dalam candaan- jika menjadi sentana, laki-laki ada di bawah perintah pihak perempuan. Sering kata-kata dalam candaan seperti itu menjadi pertimbangan pihak laki-laki dan keluarganya untuk nyentana.

Di daerah Kabupaten Badung, Denpasar, Gianyar dan Tabanan nyentana itu masih atau tetap diterima sebagai salah satu jenis perkawinan, baik oleh keluarga pihak laki-laki maupun pihak keluarga perempuan sepanjang keluarga laki-laki memiliki anak laki-laki lebih dari satu.

Walau demikian, meski diterima secara adat, nyatanya banyak perempuan Bali dan orang tua didera perasaan galau ‘pikiran kacau’, semacam ada tekanan secara psikologis.

Dalam dunia kedokteran ‘galau’ termasuk bagian dari pikiran yang stres, yakni gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar (Departemen Pendidikan Nasional, 2010:1341).

Karena terbatasnya anak laki-laki yang tersedia dan bersedia nyentana. Pada masa lalu, mungkin masih mudah mencari sentana. Karena sebuah keluarga Bali sudah biasa punya banyak anak laki-laki. Kalau anak pertama laki-laki, cenderung keluarga Bali akan bertahan (berhenti punya anak) karena dirasakan sudah cukup punya anak satu.

Kondisi yang sebaliknya sekarang ini, menjadikan bukan saja perempuan Bali juga orang tua diliputi perasaan waswas karena sulit mencari sentana.

Terhadap kasus nyentana, penulis pernah mencermati pasangan keluarga yang hanya memiliki anak gadis. Selain itu, penulis sendiri pernah melakukan penelitian sederhana soal nyentana di Desa Suraberta, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, sejumlah fenomena dan fakta yang penulis peroleh.

Pertama, pada anak gadis yang tidak memiliki saudara laki-laki atau keluarga yang anaknya semuanya lahir perempuan diperoleh kasus bahwa anak gadisnya tersebut harus mendapatkan sentana agar dapat meneruskan keturunan keluarganya.

Dalam kondisi kesulitan mencari sentana, sang anak (si gadis) dan keluarganya didera oleh perasaan galau dan waswas karena takut tidak akan mendapatkan sentana.

Keluarganya juga memikirkan masa depan anaknya karena takut anaknya tidak akan menikah jika tetap berpegang pada keputusan mencari sentana.

Hal itulah menyebabkan keluarga pihak perempuan memilih untuk melakukan perjodohan dengan laki-laki yang seagama tetapi ada juga keluarga yang menjodohkan anak gadisnya dengan laki-laki yang berbeda agama.  

Sehingga mengakibatkan permasalahan pada rumah tangga anaknya kelak sebab pernikahannya tidak didasarkan atas cinta. Memang ada beberapa pernikahan yang langgeng hasil dari perjodohan karena setelah beberapa lama menjalani pernikahan tersebut cinta antara mereka mulai tumbuh.

Namun, kebanyakan pernikahannya kandas di tengah jalan.

Kedua, pada keluarga yang di dalamnya terdapat laki-laki yang sudah menjadi sentana diperoleh kasus bahwa pihak laki-laki (suami) yang berstatus predana mengalami masalah mengenai hak dan kewajibannya di rumah pihak perempuan (istri).

Karena dalam perkawinan biasa segala hak dan kewajiban sudah jelas berada pada pihak laki-laki. Tetapi, pada perkawinan nyentana yang menjadi tulung punggung adalah pihak perempuan (sentana rajeg).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved