Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Klungkung

Ogoh-Ogoh ST. Satmya Pitaka Klungkung Gunakan Kelaras, Pembuatan Habiskan Waktu 6 Hari

ST (Sekaa Truna). Satmya Pitaka di Banjar Kayehan, Desa Dawan Kaler, Klungkung, Bali, menggarap ogoh-ogoh berbahan kelaras atau daun pisang kering.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
ST (Sekaa Truna). Satmya Pitaka di Banjar Kayehan, Desa Dawan Kaler menggarap ogoh-ogoh berbahan kelaras atau daun pisang kering, Selasa 1 Maret 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - ST (Sekaa Truna). Satmya Pitaka di Banjar Kayehan, Desa Dawan Kaler, Klungkung, Bali, menggarap ogoh-ogoh berbahan kelaras atau daun pisang kering.

Selain hemat biaya, ogoh-ogoh ini juga sangat ramah lingkungan.

Ketua ST.Satmya Pitaka, Wayan Widiana mengungkapkan, ide pembuatan ogoh-ogoh berbahan daun pisang kering tersebut muncul karena keterbatasan waktu terkait dengan pembuatan ogoh-ogoh.

Selain keterbatasan waktu, situasi pandemi membuat mereka harus berpikir kreatif untuk membuat ogoh-ogoh hemat biaya.

Baca juga: Ritual Mapepada Wewalungan di Klungkung Digelar Hari Ini, Sucikan Hewan untuk Sarana Tawur Agung

" Dalam situasi pandemi seperti saat ini, kami tidak meminta sumbangan ke warga. Kami memaklumi kondisi ekonomi warga di sini. Sehingga kami punya ide untuk membuat ogoh-ogoh memanfaatkan bahan yang melimpah di lingkungan kami," ungkap Wayan Widiana, Selasa 1 Maret 2022.

Ogoh-ogoh berbahan daun kelapa kering ini, terinspirasi dari Barong Brutuk yang menggunakan daun pisang kering.

Selain bahan yang melimpah dan mudah didapatkan, daun kelapa kering juga tidak begitu sulit dirangkai untuk menyerupai tubuh Barong Brutuk.

Baca juga: Stok Minyak Goreng Kemasan & Curah Kosong, Bupati Klungkung Lakukan Sidak Stok Minyak Goreng

" Selain biaya yang murah, ini juga ramah lingkungan. Sehingga bendesa menyatakan ogoh-ogoh kami masuk nominasi lomba," ungkapnya.

Untuk topeng pun, ST. Satmya Pitaka memanfaatkan topeng ogoh-ogoh lama yang sudah berusia 13 tahun.

Kondisi topeng yang usang, tampak cocok berpadu dengan tubuhnya yang berbahan daun pisang kering. Sehingga ogoh-ogoh itu justru tampak lebih menyeramkan. 

Baca juga: Pemkab Akan Gabung Puluhan SD di Klungkung, Tak Dapat Dana Bos Jika Siswa Kurang dari 60 Orang

" Sejauh ini, kami mengeluarkan uang sekitar Rp1 juta untuk pembuatan ogoh-ogoh ini. Itu sudah termasuk biaya operasional seperti makan dan minum," jelasnya.

Sementara untuk pembuatan ogoh-ogoh setinggi sekitar 3 meter tersebut, ST Satmya Pitaka menghabiskan waktu 6 hari dari awal hingga rampung.

" Jadi selain biaya yang tidak banyak, ogoh-ogoh ini juga ramah lingkungan," ungkapnya. (*)

Berita lainnya di Berita Klungkung

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved