Berita Denpasar
Pangdam IX Udayana Maknai Isra Miraj Momentum Harmoniskan Hubungan Sosial Prajurit TNI
Kodam IX/Udayana menggelar kegiatan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tahun 1443H/2022 M di Masjid Agung Sudirman, Jalan Slamet Riyadi
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Noviana Windri
Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kodam IX/Udayana menggelar kegiatan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tahun 1443H/2022 M di Masjid Agung Sudirman, Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.
Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Sonny Aprianto, S.E., M.M yang hadir dalam kegiatan bertema "Hikmah Isra Mikraj Dalam Kehidupan Prajurit TNI" itu mengingatkan tentang peristiwa Isra Mikraj.
Peristiwa Isra Mikraj merupakan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW, dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa hingga ke Sidratulmuntaha (langit ke tujuh) yang ditempuh dalam satu malam, ini merupakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang diperlihatkan kepada manusia.
"Peristiwa Isra Mikraj tidak hanya melakukan perjalan suci Nabi Muhammad SAW saja, namun juga menerima wahyu Allah SWT untuk perintah mendirikan atau melaksanakan salat lima waktu dalam sehari semalam," kata Pangdam
“Saya mengajak kepada seluruh Prajurit, PNS dan keluarga besar Kodam IX/Udayana agar menjadikan salat sebagai kebutuhan yang utama bukan sekedar menggugurkan kewajiban,” imbuh dia.
Baca juga: Tak Hanya Indonesia, Ini Daftar 4 Negara dengan Berbagai Tradisi Peringatan Isra Miraj
Baca juga: Sejarah Peristiwa Isra Miraj, Kesedihan Nabi Muhammad SAW hingga Perintah Wajib Sholat
Selain itu, Pangdam juga berharap hikmah Isra Mikraj dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan dan mengharmoniskan hubungan sosial sesama manusia, khususnya Prajurit dan PNS.
“Jadikanlah hikmah Isra Mikraj ini sebagai penopang semangat dalam wujud kita untuk mengabdi kepada negara, bangsa dan agama,” tegasnya.
Sementara itu, Wakabintaljarahdam IX/Udayana Letkol Inf Sopyan Munawar, S.Ag., yang bertindak sebagai penceramah menuturkan, sebelum di Isra dan Mikrajkan, Nabi Muhammad SAW mengalami kesedihan yang sangat mendalam atas meninggalnya isteri dan paman beliau yang sangat dicintainya dan selalu mendukung perjuangan dalam mensiarkan Agama Islam.
“Allah SWT menghibur Nabi Muhammad SAW dengan mengisra mikrajkan beliau dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa hingga ke Sidratulmuntaha serta menerima wahyu untuk melaksanakan perintah mendirikan Salat lima waktu sehari semalam,” ujar Sopyan Munawar.
Wakabintaljarah menambahkan, dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW tersebut banyak hikmah yang dapat dipetik, diantaranya adalah untuk menguatkan keimanan dan ketaqwaan, kesabaran serta keteguhan hati dalam menghadapi setiap cobaan yang diberikan Allah SWT bagi umatnya.
“Penuhi diri kita dengan rasa syukur atas nikmat yang diberikan dengan meningkatkan kepatuhan kita untuk menjalankan perintah Allah SWT yakni salat, karena salat mengajarkan nilai-nilai spiritualisme dan humanisme sesame manusia serta dapat mencegah dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik,” pesannya.
Kegiatan Isra Mikrah tidak hanya seremonial belaka, namun harus dimaknai sebagai upaya luhur untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Ia mengingatkan tentang betapa pentingnya pelaksanaan salat bagi Umat Islam sebagai sarana untuk membangun komunikasi dan melatih diri untuk selalu dekat dengan Tuhan.
“Melalui peringatan Isra Mi’raj kita dapat memetik hikmah maupun menarik pelajaran penting dari peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW, sehingga dapat dijadikan bekal dalam kehidupan sehari-hari baik di satuan maupun di lingkungan masing-masing", sebut Letkol Sopyan Munawar.