Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Tabanan

Harga Daging Ayam Anjlok Dibawah Harga Pokok, Pinsar Bali Mesadu ke Bupati Tabanan

Mereka datang untuk mesadu dan meminta solusi serta memohon agar difasilitasi bertemu Gubernur Bali untuk menyampaikan permasalahan peternak ayam

Tayang:
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/I Made Prasetya Aryawan
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Bali, Ketut Yahya Kurniadi saat memberikan keterangan terkait permasalahan harga daging ayam anjlok di Kantor Bupati Tabanan, Senin 21 Maret 2022. 

"Harga sempat melambung, tapi kita tidak kebagian bibit. Saat itu bibit sudah diserap oleh pengusaha besar atau pabrikan itu. Artinya ke internal mereka. Kecil sekali peluang kita, ketika ada momen, kita sangat susah," ungkapnya sembari menyebutkan sekitar 25 orang dan sekarang hanya tersisa 10 orang.

Menurut Yahya, perjuangan ini juga dilakukan di seluruh daerah mengingat Perhimpunan (Pinsar) Pusat juga sudah berjuang di Jakarta.

Dan selain permasalahan harga, para petani lokal ini juga kesulitan pada modal untuk mengikuti teknologi peternakan terbaru.

Dengan menerapkan pola lama, banyak masalah yang dihadapi mulai dari produksi yang kurang bagus, gampang terserang penyakit dan sebagainya.

"Karena kita gunakan pola lama, jadi kita kalah bersaing. Nah sekarang untuk maju mengikuti tekologi baru tersebut akan kesulitan mengingat modal kita kurang.

Kita juga takut mengikuti jika pangsa pasar kita tidak pasti atau tidak menjanjikan. Jadi itu benang merahnya," ungkapnya.

Pasar Dimonopoli Pabrikan Besar

Ketua Pinsar Bali, Ketut Yahya Kurniadi mengungkapkan, pangsa pasar daging ayam di Bali sudah dimonopoli sejak puluhan tahun lalu.

Pabrik besar seharusnya bisa masuk ke pangsa pasar di Bali tanpa masuk ke pangsa pasar peternak lokal mandiri.

"Semenjak pola kemitraan mereka tambah subur. Aturan terbaru mereka memang diijinkan melakukan pola kemitraan. Tapi marketnya ini yang belum dilaksanakan," ungkapnya.

Dia menyebutkan, sejatinya sudah terjadi sejak 1998 lalu atau saat krismon.

Baca juga: DPRD Tabanan Segera Bahas LKPJ Tahun Anggaran 2021, Sanjaya Akui Tahun Pertama Memang Berat

Peternak mandiri tiarap dan pabrik diijinkan melakukan kemitraan sehingga menjadi subur. Dan berbanding terbalik dengan petani dengan pola UMKM atau mandiri menjadi mati.

"Sekarang yang bertahan hanya peternak yang menerapkan pola peternak modern seperti kami yang tersisa. Tapi tetap kalah bersaing karena kita beli segalanya juga di sana (pabrik) dan berebut pasar dengan mereka,” jelasnya.

Yahya menegaskan, harapan dari para peternak di Bali khususnya Tabanan ini adalah dibuatkan regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) Bali. Sehingga, nantinya Perda itu akan membuatkan aturan terkait semua hal terutama daging.

Apalagi pihaknya juga sempat mengusulkan Pos Kontrol di Banyuwangi bekerjasama dengan Pihak Karantina untuk menyeleksi daging yang masuk ke Bali.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved