Berita Tabanan
Harga Daging Ayam Anjlok Dibawah Harga Pokok, Pinsar Bali Mesadu ke Bupati Tabanan
Mereka datang untuk mesadu dan meminta solusi serta memohon agar difasilitasi bertemu Gubernur Bali untuk menyampaikan permasalahan peternak ayam
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Himpunan Peternak Rakyat Bali atau Pinsar Bali mendatangi Kantor Bupati Tabanan, Senin 21 Maret 2022.
Mereka datang untuk mesadu dan meminta solusi serta memohon agar difasilitasi bertemu Gubernur Bali untuk menyampaikan permasalahan peternak ayam terutama di Tabanan.
Sebab, sejak 1,5 bulan lalu, para peternak merugi karena harga daging ayam anjlok.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Bali, Ketut Yahya Kurniadi mengungkapkan, kedatangan pihak ke Kantor Bupati Tabanan adalah untuk menyampaikan berbagai hal mengenai keluhan dari peternak bali.
Baca juga: Polres Tabanan Amankan 5 Tersangka Kasus Narkotika, Total Barang Bukti Mencapai 16,26 Gram
Sebab, pihaknya para peternak wajib memberikan informasi mengenai keadaan para peternak yang ada di Bali, khususnya Tabanan, kepada pemerintah.
Dia kemudian mengungkapkan, permasalahan yang dimaksud adalah gampangnya daging ayam peternak dari luar Bali (Jawa) yang masuk.
Padahal kualitas dari daging tersebut tak diketahui dengan jelas.
Kemudian pangsa pasar bagi peternak lokal diambil mengingat Bali menjadi pangsa pasar dari peternak luar Bali.
"Kemudian dari dalam (Bali) sendiri, pabrik besar juga dengan kondisi Covid saat ini endemi atau saat pangsa pasar kita menurun hingga 50 persen, mereka justru menambah produksi.
Ini berimbas bagi kita karena mereka sudah punya segalanya. Artinya kita berperang dengan kita," ungkapnya.
Dia mengaku, pihaknya selaku peternak lokal justru sangat keteteran atau tidak bisa bersaing.
Sehingga tujuannya menghadap kepada Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya adalah agar bisa difasilitasi dengan Gubernur Bali untuk menyampaikan permasalahan ini.
"Tujuan kami tentunya agar ada solusi, dan kami harap Bapak Bupati bisa memfasilitasi kita bertemu dengan Bali 1 atau Gubernur Bali," ungkapnya.
Harga di peternak saat ini di bawah harga pokok.
Baca juga: Roranus Curi HP Pemilik Warung di Tabanan, Manfaatkan Kondisi Ketika Korbannya Lengah
Diantaranya di kisaran Rp 15 ribu dan maksimal Rp 20 Ribu per kilogramnya. Sementara harga pokok di angka Rp 21.500 hingga Rp 22.000.
"Harga sempat melambung, tapi kita tidak kebagian bibit. Saat itu bibit sudah diserap oleh pengusaha besar atau pabrikan itu. Artinya ke internal mereka. Kecil sekali peluang kita, ketika ada momen, kita sangat susah," ungkapnya sembari menyebutkan sekitar 25 orang dan sekarang hanya tersisa 10 orang.
Menurut Yahya, perjuangan ini juga dilakukan di seluruh daerah mengingat Perhimpunan (Pinsar) Pusat juga sudah berjuang di Jakarta.
Dan selain permasalahan harga, para petani lokal ini juga kesulitan pada modal untuk mengikuti teknologi peternakan terbaru.
Dengan menerapkan pola lama, banyak masalah yang dihadapi mulai dari produksi yang kurang bagus, gampang terserang penyakit dan sebagainya.
"Karena kita gunakan pola lama, jadi kita kalah bersaing. Nah sekarang untuk maju mengikuti tekologi baru tersebut akan kesulitan mengingat modal kita kurang.
Kita juga takut mengikuti jika pangsa pasar kita tidak pasti atau tidak menjanjikan. Jadi itu benang merahnya," ungkapnya.
Pasar Dimonopoli Pabrikan Besar
Ketua Pinsar Bali, Ketut Yahya Kurniadi mengungkapkan, pangsa pasar daging ayam di Bali sudah dimonopoli sejak puluhan tahun lalu.
Pabrik besar seharusnya bisa masuk ke pangsa pasar di Bali tanpa masuk ke pangsa pasar peternak lokal mandiri.
"Semenjak pola kemitraan mereka tambah subur. Aturan terbaru mereka memang diijinkan melakukan pola kemitraan. Tapi marketnya ini yang belum dilaksanakan," ungkapnya.
Dia menyebutkan, sejatinya sudah terjadi sejak 1998 lalu atau saat krismon.
Baca juga: DPRD Tabanan Segera Bahas LKPJ Tahun Anggaran 2021, Sanjaya Akui Tahun Pertama Memang Berat
Peternak mandiri tiarap dan pabrik diijinkan melakukan kemitraan sehingga menjadi subur. Dan berbanding terbalik dengan petani dengan pola UMKM atau mandiri menjadi mati.
"Sekarang yang bertahan hanya peternak yang menerapkan pola peternak modern seperti kami yang tersisa. Tapi tetap kalah bersaing karena kita beli segalanya juga di sana (pabrik) dan berebut pasar dengan mereka,” jelasnya.
Yahya menegaskan, harapan dari para peternak di Bali khususnya Tabanan ini adalah dibuatkan regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) Bali. Sehingga, nantinya Perda itu akan membuatkan aturan terkait semua hal terutama daging.
Apalagi pihaknya juga sempat mengusulkan Pos Kontrol di Banyuwangi bekerjasama dengan Pihak Karantina untuk menyeleksi daging yang masuk ke Bali.
"Sebelumnya kita juga sudah usulkan ada pos kontrol agar bisa menyeleksi terutama dari perizinannya. Tapi, wewenang pihak karantina hanya bertugas untuk menjamin agar jangan sampai daging berpenyakit masuk ke Bali.
Sehingga beberapa pihak seperti Dinas Peternakan juga diharapkan ada di dalamnya. Kami berharap perusahaan besar diatur kuotanya agar mengutamakan lokal lah. Kalau kita perang ya jelas kita kalah terus," harapnya.(*)
Artikel lainnya di Berita Tabanan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ketua-perhimpunan-insan-perunggasan-rakyat-indonesia-pinsar-bali-ketut-yah.jpg)