Konflik Rusia vs Ukraina
Sejumlah Delegasi Walkout Saat Rusia Bicara di Pertemuan G20, IMF: Kerja Sama Harus Tetap Terjalin
Sejumlah pejabat tinggi dari berbagai negara dalam pertemuan Kelompok G20 memilih walk out saat Delegasi Rusia berbicara.
Penulis: I Putu Juniadhy Eka Putra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ia juga mengeluhkan efek merusak dari sanksi Barat, kata pernyataan itu.
“Aspek lain dari krisis saat ini adalah merusak kepercayaan pada sistem moneter dan keuangan internasional yang ada,” ujar Siluanov
“Keamanan cadangan internasional dan kemungkinan perdagangan bebas dan transaksi keuangan tidak lagi dijamin,” lanjutnya.
Direktur Pelaksana IMF: Kita Saling Membutuhkan
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada hari Rabu 20 April 2022, mengakui jika sejumlah delegasi yang melakukan walkout saat pihak Rusia berbicara merupakan sebuah ‘momen sulit’ bagi G20.
Meskipun begitu, dirinya bersikeras bahwa kerja sama melalui forum akan terus berlanjut.
"Jelas ada fakta yang sangat, sangat meresahkan yang harus kita tangani," katanya.
“Tetapi kami juga menyadari betapa saling ketergantungan kami, dan sangat jelas bahwa kerja sama harus dan akan terus berlanjut,” tuturnya.
Awal bulan ini, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia atas invasi tersebut, ketika negara-negara mengangkat ‘keprihatinan besar pada krisis hak asasi manusia dan kemanusiaan yang sedang berlangsung di Ukraina’.
Minggu ini, Washington dan sekutunya di Eropa juga berjanji untuk “memperketat” sanksi mereka terhadap Moskow dalam upaya untuk mengakhiri pertumpahan darah.
Baca juga: Persiapan Jelang Lebaran dan G20, Jalur Masuk Hingga Fasilitas Pendukung Desa Penglipuran Diperbaiki
Pada hari Rabu, pemerintahan Biden mengumumkan sanksi baru terhadap puluhan orang dan entitas, termasuk bank komersial Rusia Transkapitalbank dan oligarki Konstantin Malofeyev.
"AS dapat dan akan menargetkan mereka yang menghindari, berusaha untuk menghindari, atau membantu penghindaran sanksi AS terhadap Rusia, karena mereka membantu mendukung perang brutal pilihan Putin,” kata Wakil Menteri Terorisme dan Intelijen Keuangan Brian E Nelson dalam sebuah pernyataan.
(*)