Berita Bali
Bunga hingga Kelapa Sebagai Sarana Upakara dan Maknanya Dalam Hindu
Bunga hingga Kelapa Sebagai Sarana Upakara dan Maknanya Dalam Hindu, Berikut Artikelnya
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Sirih tampel, sebagai simbol seseorang yang sedang sembahyang.
Gegantusan adalah paduan antara isi lautan dan daratan, karena isinya garam dan lainnya dibungkus dengan daun kraras.
Pisang juga penting, baik yang mentah maupun yang matang.
Pisang mentah berwarna hijau kehitaman, kerap digambarkan sebagai simbol jari.
Sedangkan pangi yang berwarna merah, kerap dijadikan simbol dagu.
Kayu cendana, adalah simbol Hyang Parama Siwa.
Majegau adalah simbol Hyang Sada Siwa, serta menyan adalah simbol Hyang Siwa.
Tapi porosan yang ujungnya runcing, sebagai lambang Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Buah pinang menggambarkan Hyang Brahma.
Sirih melambangkan Hyang Wisnu dan buah pelawa melambangkan ketenangan serta kesucian hati.
Baca juga: Tujuan Upacara Bhuta Yadnya Dalam Hindu di Bali
Semua sarana banten ada dan tersedia di alam semesta ini.
Untuk itu dalam ajaran agama Hindu, diwajibkan umat memahami dan menjalankan Tri Hita Karana.
Salah satu bagiannya adalah Palemahan, atau menjaga hubungan baik antara manusia dengan alam semesta beserta isinya.
Ini juga wujud menghargai dan mensyukuri karunia Tuhan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/mengenal-canang-sarana-upakara-hindu-di-bali.jpg)