Parjuma Modom, Kisah Perjuangan Hidup Orang Simalungun

Di balik kehidupan normal tersebut ternyata ada kehidupan yang tidak normal atau tidak wajar di komunitas huta tersebut yaitu Marjuma Modom.

Editor: Kander Turnip
Istimewa
Riasman Damanik, ST 

Parjuma Modom, Kisah Perjuangan Hidup Orang Simalungun

Penulis: Riasman Damanik, ST

(Pemerhati Sosial, tinggal di Jakarta)

PADA zaman dahulu, khususnya yang terjadi di Simalungun Sumatera Utara, kehidupan masih terbilang sangat tertinggal.

Indikator ketertinggalan bisa dilihat dari belum adanya listrik, makanan 100 persen bersumber dari alam dan pertanian, tidak ada akses dengan pihak luar, tidak ada sekolah, tidak ada pusat kesehatan, kehidupan hanya menikmati pergantian siang dan malam.

Berbeda dengan beberapa daerah di timur Indonesia yang hidup berpindah-pindah pada masa itu, di Simalungun penduduk secara komunitas (huta) sudah hidup menetap dan bertetangga.

Huta (kampung) merupakan salah satu pusat tempat tinggal untuk malam hari.

Hal ini ditengarai betujuan agar manusia merasa aman dari hewan liar dan gangguan alam lainnya.

Sehingga lokasi huta pun dicari tempat yang paling aman.

Huta inilah yang menjadi sentral perjumpaan penduduk dalam melakukan aktivitas malam, termasuk upacara adat istiadat setempat.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved