KKN Desa Penari

KKN Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Dosen Budaya UI Lemparkan Kritik!

 Sungguh pencapaian fantastis, karena film KKN di Desa Penari berhasil tembus 8 juta penonton.Pemeran Nur, Tissa Biani pun, mengungkapkan rasa terim

Instagram KKN Movie
Film horor terlaris di Indonesia, KKN Desa Penari. 

Seolah kita ingin menancapkan di alam bawah sadar, para generasi muda bangsa bahwa seni budaya peninggalan nenek moyang kita adalah budaya yang jahat, buruk, dan sudah sepantasnya kita tinggalkan," ungkap Lily dalam keterangannya kepada Tribun Bali, Minggu 29 Mei 2022 malam.

Ia mengajak flasback ke kisah-kisah film nasional tahun 70-an hingga 90-an, di mana seni budaya nasional direpresentasikan oleh tokoh para dukun jahat yang menggunakan atribut-atribut seperti pakaian, mantera dan peralatan lokal. 

"Mereka akhirnya harus berhadapan dan dikalahkan oleh tokoh-tokoh ideal pelindung masyarakat semacam pahlawan impor berpakaian dan berujaran ala Timur Tengah," katanya.

Ternyata hal ini masih juga terjadi pada film-film dan karya sastra saat ini.

Fakta-fakta Film KKN di Desa Penari, Tayang 30 April 2022 hingga Biaya Produksi Rp 15 Miliar
Fakta-fakta Film KKN di Desa Penari, Tayang 30 April 2022 hingga Biaya Produksi Rp 15 Miliar (Kompas.com)

Budaya lokal hanya sebagai pelengkap penderita.

Pada era media cetak dahulu, kata Lily, tokoh semacam Datuk Meringgih, seorang pemberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda di Sumatera Barat dalam roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli seorang sastrawan masa penjajahan Belanda digambarkan sebagai manusia berperilaku sangat bejat.

"Akibatnya, semua pembaca sangat membenci dia (Datuk Meringgih) dan berpihak kepada Samsul Bahri yang notabene adalah anggota pasukan Kerajaan Belanda penumpas pejuang kemerdekaan kita," ucapnya.

Akhirnya tokoh Datuk Meringgih harus tewas di tangan perwira Samsul Bahri, dalam suatu perang pemberontakan perkara pajak dan para pembaca tentu senang.

Berbanding terbalik apabila menonton film-film, video atau karya sastra negara lain.  

"Drakornya Korea, film Jepang atau India selalu menyisipkan pesan akan kebesaran dan kebanggaan mereka pada tanah air, seni dan budayanya sendiri," ungkapnya.

Baca juga: Sutradara Tak Sangka Film KKN Di Desa Penari Dapat Sambutan Baik, Raih 7 Juta Penoton Dalam 19 Hari

Sebagai contoh, film-film tentang kejayaan para Samurai dari Akira Kurosawa, Mahabarata, aneka film Shah Rukh Khan dengan kebanggaan pada Irama dan kejayaan tarian lokal India.

Juga trend film di Hollywood. Sedari dulu mereka sudah mempunyai pesan-pesan kejayaan supremasi kulit putih dan legenda leluhur mereka.

Seperti film-film yang menampilkan kisah Thor, Odin, Romawi, Troya, Cowboy, Mafia.

"Lha wong negara seperti Austria saja sebagai pusat Nazi Jerman pernah mencuci negara mereka dengan film The Sound of Music pada tahun 70-an," tuturnya.

Semua itu menggugah jiwa penontonnya untuk lebih mencintai sejarah dan seni budaya leluhurnya. 

Betapa agungnya leluhur mereka dan betapa gagah dan besarnya bangsa mereka di waktu lampau.

"Padahal kita punya sejarah dan seni budaya yang bukan kaleng-kaleng dan jika diolah dengan script, tata artistik dan teknik sinematografi yang baik akan kembali bergelora semangat bangsa yang besar, seperti Salaka Nagara, Kutai Kartanegara, Majapahit, Sriwijaya, Mataram," paparnya.

Di era multimedia ini, di mana para generasi muda bangsa lebih tertarik melihat karya fiksi dalam bentuk film dan video, maka sudah selayaknya sebagai insan kreatif turut melindungi seni budaya nasional.

"Mari kita buat film nasional yang betul-betul membuat Kebangkitan Nasional bukan hanya dari jumlah penonton dan kesuksesan bisnis namun juga menanamkan kebanggaan generasi muda kita akan seni budaya leluhur mereka," pungkasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul Film KKN di Desa Penari Hampir Tembus 8 Juta Penonton, Tissa Biani: 'Kita Bikin Apa Nih Kalau Udah?'

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved