Berita Karangasem
Perajin Lontar di Tenganan Pegeringsingan Hampir Punah, Sebagian Alih Profesi, Ini Faktanya
- I Putu Parwata (55), pengrajin lontar asal Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem menunduk saat ditemui Tribun Bali, Rabu
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Marianus Seran
Untuk lontar berukuran kecil sekitar 100 - 150 ribu, sedangkan berukuran besar 500 ribu. Penghasilan kerajinan lontar tidak menentu tergantung wisatawan yang berkunjung ke Desa Adat Tenganan.
"Kadang dalam seminggu belum pasti ada yang terjual. Penghasilannya tidak menentu. Kalau tak ada rezeki, penghasilan kosong.
Apalagi saat pandemi wisatawan yang berkunjung ke Tenganan Pegeringsingan sepi. Koondisi seperti itu sampai 2, 5 tahun "kata Parwata, sapaan akrab.
Pihaknya bertahan jadi pengrajin lontar karena ingin melestarikan warisan leluhur. Jangan sampai wrisan yang ada punah.
Desa adat berupaya mempertahankan pengrajin lontar demi melestarikan warisan budaya. Orang tua tetap memberikan pengetahuan / wawasan mebuat lontar.
Pantauan Tribun Bali dilapangan, jumlah pengrajin lontar yang sering buka sekitar 5 orang. Biasanya mereka layani pesanan dari wisatawan lokal hingga mancanegara.
Pesanannya bervariatif. Seperti pesanan tulisan aksara Bali, gambar peta Pulau Bali, hingga gambar tempat wisata di Bali.(*)