Berita Badung

Jelang G20, Badung Akan Kumpulkan Shelter dan Buat Satgas Penanganan Rabies

Jelang perhelatan G20 pemerintah Kabupaten Badung akan mengumpulkan shelter hewan liar dan membangun satgas penanggulangan rabies.

Dok. Tribun Bali
Ilustrasi vaksin - Jelang perhelatan G20 pemerintah Kabupaten Badung akan mengumpulkan shelter hewan liar dan membangun satgas penanggulangan rabies. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Jelang perhelatan G20, pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan setempat akan mengumpulkan shelter atau tempat penampungan hewan liar atau telantar. Selain itu juga akan membangun satgas penanggulangan rabies.

Upaya ini dilakukan, guna menekan penyebaran kasus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan, seperti anjing, kucing, dan monyet. Mengingat kasus rabies pernah terdapat di daerah kuta Selatan.

Wakil Bupati Badung, Ketut Suiasa tak menapik hal tersebut. Pihaknya mengaku akan pengumpulan shelter- shelter untuk memudahkan melakukan monitoring terhadap hewan penular rabies (HPR). 

Selain itu juga  membentuk Satuan Tugas (Satgas) penanganan rabies guna mempercepat program tersebut.

"Untuk pencegahan rabies kami di Badung membentuk Satgas penanganan rabies. Kami juga meminta dilakukan pemetaan dan pendataan hewan penular rabies, seperti anjing, kucing, dan monyet dan mendata shelter-shelter hewan yang membuat penampungan," katanya Kamis 29 September 2022 

Suiasa mengakui bahwa program tersebut  akan difokuskan di wilayah Kuta Selatan dan objek-objek wisata yang menjadi venue dari perhelatan dunia tersebut. Bahkan pihaknya akan membuat schedule untuk melakukan pendataan. 

"Ini akan melibatkan camat dan perangkat desa, khususnya di Kuta Selatan karena G20 ini juga menjadi perhatian kita. Di Kecamatan Kuta Selatan kami sudah minta mengumpulkan peternak dan shelter," katanya.

Baca juga: Ada Keluhan Pemakaian Pertalite Lebih Boros Sejak Naik Jadi Rp10.000, Ini Penjelasan PT Pertamina

Ditemui terpisah, Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Pangan Badung Gede Asrama mengakui, sempat ditemukan dua kasus gigitan hewan pembawa rabies di Kabupaten Badung. Kedua kasus tersebut berada di Kecamatan Kuta Selatan yang akan menjadi tuan rumah KTT G20. Namun kasus ini sudah ditangani dengan cara euthanasia dan vaksinasi.

"Dulu ada satu kasus di Desa Kutuh Januari 2022, kemudian satu kasus Desa Ungasan di Februari. Tapi langsung kita respon, kita lakukan vaksinasi di seluruh Kuta Selatan, dan Astungkara, tidak ada lagi kasus rabies,"ucapnya.

Bahkan pihaknya pun mengakui, pelaksanaan vaksinasi untuk di Kuta Selatan kini capaiannya sekitar 10-13 ribu. Kemudian vaksinasi ini akan bergerak terus ke seluruh kecamatan di Gumi Keris dengan estimasi jumlah populasi anjing sekitar 80 ribu. 

"Namun vaksinasi rabies ini akan difokuskan di daerah zona merah rabies. Setelah ada temuan kasus langsung kita lakukan pencegahan dengan vaksinasi rabies," ucapnya sembari mengatakan sekarang hasilnya keluar langsung kita vaksin, sehingga memutus siklus penularan,” terangnya.

Kendati sudah melakukan vaksinasi, Asrama menjelaskan, masih ada upaya yang harus dilakukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para delegasi KTT G20. Pertama pihaknya akan meminta bantuan kepada penyayang binatang untuk memberikan tempat kepada anjing liar di shelter yang dimiliki. Kemudian ia juga menghimbau agar anjing yang sengaja diliarkan untuk sementara ditempatkan di dalam rumah.

"Ini yang kita rapatkan dengan camat dan lurah/perbekel yang ada di kuta selatan, sekaligus pengelola tempat wisata yang akan menjadi venue G20," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved