Berita Bali
BADAI Resesi Global Perlu Diwaspadai, Potensi Ada PHK Kembali, Simak Ulasannya Berikut Ini!
Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn. Badai resesi dan PHK pun di depan mata.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kendati sudah melewati masa sulit karena pandemi Covid-19.
Nyatanya kondisi perekonomian Bali belum kunjung pulih.
Banyak pakar yang mengatakan, bahwa untuk pulih seperti sediakala memerlukan waktu.
Tak hanya pada sektor pariwisata, sektor lain seperti ekspor juga belum membaik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali, Panudiana Kuhn.
Badai resesi dan PHK pun di depan mata.
Baca juga: BBM Naik, Respon Ketua HIPMI BALI : Pariwisata Belum Pulih Jangan Sampai Inflasi dan Resesi
Baca juga: Indonesia Resmi Resesi, Bakal Berujung Krisis Ekonomi?

“Ekspor belum membaik, kecuali batu bara dan kelapa sawit.
Garmen, tekstil, handycraft, sepatu, lain-lain masih masalah, karena di negara lain juga masih sepi karena lockdown kemarin.
Apalagi pariwisata belum booming,” jelasnya pada, Senin 3 Oktober 2022.
Saat ini, ia melihat, keberadaan pesawat sebagai transportasi udara tidak seramai sebelum pandemi Covid-19.
Meski pun ada, kata dia, harga tiketnya kini relatif mahal.
Pesawat yang mestinya terbang, justru hanya diam selama dua tahun, dan jika akan dioperasionalkan kembali, tentunya memerlukan biaya untuk penyegaran.
Itulah mengapa tidak sedikit penerbangan bangkrut dan melakukan PHK terhadap pegawai, kru, hingga pilotnya.

Di Bali sendiri, kata dia, masih ada perusahaan yang diam-diam melakukan PHK terhadap karyawannya.
Ini karena kondisi yang memang masih belum normal.
Kendati wisatawan mancanegara mulai ramai ke Bali, tetapi diakuinya, lebih banyak berada di wilayah Nusa Dua atau merupakan tamu dari delegasi KTT G20 dan sekitarnya.
Sehingga, hotel-hotel yang terdampak pun masih seputar wilayah Nusa Dua saja.
“(G20 terhadap pariwisata Bali) membantu, tapi belum semua terbantu.
Hotel-hotel di Jalan Dewi Sri, Jalan Sunset Road, jual murah saja (kamarnya) belum laku.
Sekarang terbantu dari tamu Australia, mereka paling banyak datang ke Bali.
China belum masuk, Korea baru akan, Taiwan sudah mulai.
Dulu kan China ramai sebelum pandemi,” tambahnya.
Di samping itu, menurut dia, Perang Eropa, antara Rusia vs Ukraina dampaknya cukup meluas.
Hal ini memerlukan waktu untuk mereda.
Pihaknya pun tidak menyangkal, saat disinggung apakah sekiranya akan ada badai PHK ke-2 di Bali.
“Kita tinggal menunggu saja (badai PHK ke-2).
Namun kita berharap, setelah KTT G20 sukses, turis akan lebih banyak datang ke Bali.
Itupun, jika negaranya tidak terkena resesi,” imbuhnya.
Saat ini, kedatangan wisman Australia sebagai kantong turis Bali sangat diharapkan.
Sebab Australia memiliki catatan waktu lama tinggal di Bali yang cukup panjang.
“Singapura liburan paling lama 4 hari, karena dekat.
Malaysia juga begitu. Korea 3-4 hari kalau ke Bali, Jepang juga sama, tidak bisa lama-lama seperti orang Eropa.
Eropa biasanya dua-tiga minggu, kalah jauh. Australia seminggu. Mudah-mudahan Australia ekonominya bagus, meski penduduknya sedikit, tapi tidak apa-apa. Problemnya kita tidak bisa jemput mereka,” tutupnya. (*)