Berita Bali
PETUGAS DAM Peraupan Ungkap Sempat Melihat Dayung dan Helm Hanyut
Saat sedang istirahat, tiba-tiba mereka melihat beberapa perlengkapan rafting hanyut melewati aliran sungai.
Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - WNA hilang saat rafting, di Tukad Ayung tengah menjadi atensi semua pihak.
Tidak hanya personil tim operasi pencarian WNA hilang saja, namun juga masyarakat setempat ikut mencari.
Terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas, yang berkaitan langsung dengan daerah Tukad Ayung.
Seperti yang dilakukan petugas DAM Peraupan, Dusun Umadesa, Desa Peguyangan Kaja, Denpasar Utara.
Baca juga: WNA HILANG Rafting Masuk Tahap Pencarian Hari Ketiga, Terkendala Cuaca dan Kondisi Sungai
Baca juga: Pencarian WNA Inggris Diperpanjang 3 Hari Usai Gelar Evaluasi Bersama Keluarga dan Konsulat

Selain membantu mengamati DAM yang dialiri air Tukad Ayung, beberapa petugas juga mengungkapkan beberapa kejadian.
Salah satunya dari Suarsana Adi Nata, petugas DAM Peraupan.
Pada kejadian WNA hilang saat rafting, ia kebetulan sedang bertugas di DAM Peraupan.
Kepada Tribun Bali, lelaki yang akrab disapa Adi itu, mengatakan ia dan beberapa rekannya baru saja selesai melaksanakan tugasnya mengatur air bendungan.
Saat sedang istirahat, tiba-tiba mereka melihat beberapa perlengkapan rafting hanyut melewati aliran sungai.

“Waktu itu (Senin, 3 Oktober 2022) posisinya ada tiga orang yang jaga di sini, termasuk saya.
Teman saya yang pertama kali melihat dayung dan lima menit kemudian kami melihat helm,” jelas Adi.
Adi menuturkan kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 15.00-15.30 WITA dan melewati tepat di tengah jembatan DAM Peraupan.
Dayung yang mereka lihat berwarna merah sementara helm berwarna biru.
Ia tak tahu pasti perlengkapan tersebut merupakan perlengkapan yang digunakan para korban rafting yang hanyut.
Namun, Adi memastikan itu adalah perlengkapan yang sering digunakan untuk rafting.
Rencananya perlengkapan tersebut juga akan diselamatkan, tetapi saat itu air sungai sangat deras dan banyak kayu yang terbawa air.

Oleh karena itu, mereka menutup keinginan tersebut.
Tinggi air saat itu diperkirakan mencapai angka 250 Cm.
Adi menambahkan, ia dan kawan-kawannya belum mengetahui ada kabar orang hilang saat rafting.
“Kami baru tau kabar ada WNA hilang saat rafting, saat malam hari diberi informasi oleh teman.
Tetapi sore itu entah bagaimana kita tiba-tiba berpikir setelah itu kemungkinan akan ada orang yang hanyut,” tambahnya.
Adi menjelaskan, Tukad Ayung yang berhulu di Gianyar sendiri merupakan sungai yang sering digunakan sebagai wahana rafting.
Mereka juga sering menemukan perlengkapan rafting yang hanyut.
Dayung sendiri merupakan salah satu alat yang paling sering ditemukan.
Namun, hanyutnya dayung biasanya terjadi dalam selang waktu yang cukup lama.
Sementara helm sendiri merupakan perlengkapan yang jarang ditemukan.
Biasanya, Adi dan kawan-kawannya akan menyelamatkan barang tersebut apabila memungkinkan.

Setelah melihat dayung dan helm tersebut, Adi tak lantas melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib atau pemerintah.
Hal ini dikarenakan kejadian tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi di DAM Peraupan.
Karena tumben melihat helm hanyut, mereka pun menunggu beberapa saat di atas DAM Peraupan untuk memastikan kondisi.
“Kami menunggu di atas jembatan DAM Peraupan sambil melihat ke arah utara (hulu).
Takutnya ada pohon besar yang hanyut kan, kalau tersangkut di sini malah menyumbat aliran atau mengenai pintu bendungan,” kata Adi.
Setelah kondisi dipastikan aman, mereka langsung berpindah lokasi untuk menyelesaikan tugas lain.
Diketahui Rabu, 5 Oktober 2022 kabar tersebut sudah dilaporkan ke Kepala Dusun dan tim operasi yang bertugas.
Ia berharap cuaca juga bisa mendukung tim, untuk melakukan pencarian sehingga korban dapat segera ditemukan.
Adi juga mengimbau kepada masyarakat untuk menunda kegiatan di sungai saat musim penghujan seperti saat ini. (*)