Berita Bangli
Bus Damri Susah Cari Solar, Pelayanan Berhenti Hari Ini Jika Tak Dapat BBM
Operasional pelayanan bus PT Damri berkurang, di beberapa trayek. Hal ini karena sulitnya pasokan solar di sejumlah SPBU di Bangli.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Operasional pelayanan bus PT Damri berkurang, di beberapa trayek.
Hal ini karena sulitnya pasokan solar di sejumlah SPBU di Bangli, yang berdampak pada layanan bus perintis tersebut.
Karyawan Damri, Dewa Gede Maruya, mengungkapkan sejak berlakunya kenaikan harga BBM.
Pihaknya menjalin kerjasama dengan SPBU Pengotan, untuk mendapatkan solar.
Namun sejak hari Sabtu (22/10/2022), stok solar di SPBU tersebut habis.
Baca juga: Solar Langka, Layanan Bus Perintis Terganggu
Baca juga: Dewan Minta Pemerintah Beri Kejelasan Soal Kuota Solar di Bali
"Kami sudah berupaya menghubungi beberapa SPBU lainnya yang menyediakan solar, seperti SPBU Sidembunut (Kelurahan Cempaga, Bangli) dan Sekardadi (Kecamatan Kintamani). Namun hasilnya sama saja (habis). Katanya belum dapat kiriman solar," ungkap dia, Minggu (23/10).
Maruya mengatakan, rata-rata penumpang bus perintis sebanyak 19 orang per hari. Langkanya BBM jenis solar tentu mengganggu pelayanan. Meski saat ini masih ada armada yang beroperasi, namun armada itu hanya mengandalkan stok solar yang masih tersisa.
Ia menjelaskan, beberapa armada tidak bisa beroperasi misalnya trayek Bangli-Songan. Dari yang sebelumnya ada empat bus, kini hanya dua bus yang beroperasi. Begitu juga trayek Bangli-Catur. Dari dua bus, sekarang hanya satu bus saja yang beroperasi.
"Sedangkan trayek Bangli-Tejakula sekarang tidak bisa terlayani, karena dari dua armada yang tersedia, keduanya kehabisan solar. Kalau sampai besok (hari ini) tidak mendapatkan solar, jelas layanan Damri secara keseluruhan akan berhenti," ucapnya.
Sebelumnya, kelangkaan solar juga dialami Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli. Akibat langkanya solar, operasional pelayanan sampah di wilayah perkotaan menjadi terganggu. Pihak DLH Bangli bahkan mencari solar hingga wilayah Kabupaten Gianyar.
Sementara itu, Dewan Bangli mendesak Pemerintah Pusat agar memberikan kejelasan soal kuota BBM jenis solar. Pasalnya kelangkaan BBM jenis ini sudah sering terjadi. Apalagi dampak kelangkaan solar sangat berpengaruh terutama dengan ekonomi masyarakat.
Anggota DPRD Bangli, I Made Sudiasa mengatakan, BBM jenis solar banyak dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan ekonomi masyarakat. Mulai dari jasa transportasi darat dan laut hingga penggilingan gabah.
Di sisi lain, akibat langkanya BBM jenis solar tidak sedikit masyarakat yang terpaksa membeli BBM lain jenis lain. Misalnya Pertadex maupun Dexlite yang harganya lebih mahal agar bisa tetap beroperasi.
"Artinya dengan biaya bahan bakar yang tinggi, mengakibatkan harga barang atau jasa juga lebih tinggi. Tentunya hal ini menambah beban masyarakat, mengingat kondisi ekonomi masyarakat saat ini juga belum pulih," ungkapnya. (mer)
Dewan Pertanyakan Kuota di Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Operasional-pelayanan-bus-PT-Damri-berkurang-di-beberapa-trayek.jpg)