Berita Jembrana

Hasil Tim Investigasi Hutan Jembrana, Temukan Banyak Titik Longsor Hutan Blok Inti

Tim Investigasi khusus dari pihak KPH, KLHK dan Polda Bali telah turun untuk melakukan pengecekan langsung kondisi terkini hutan blok inti sepanjang

Istimewa
Salah satu titik terjadinya longsor di kawasan hutan blok inti di Kabupaten Jembrana, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Tim Investigasi khusus dari pihak KPH, KLHK dan Polda Bali telah turun untuk melakukan pengecekan langsung kondisi terkini hutan blok inti sepanjang aliran sungai Bilukpoh, Jembrana, Bali.

Investigasi dilakukan karena kejadian banjir bandang yang membawa material kayu hutan begitu banyak.

Dari hasil sementara, ditemukan banyak titik longsor yang terjadi di kawasan tersebut. 


"Tim investigasi memang sudah dapat laporan, namun masih bersifat internal," kata Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Bali Barat, Agus Sugiyanto saat dikonfirmasi, Senin 31 Oktober 2022.

Baca juga: Totalitas Respon Banjir Bandang Jembrana, Haji Bambang Ucapkan Terima Kasih Kepada Personil TDB


Hari ini, kata dia, pihak dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga langsung turun ke hulu untuk melakukan pengecekan dan penelitian terkait kondisi hutan di Jembrana.

Selama dua hari, lembaga nonkementerian itu melakukan penelitian di luar kawasan dan dalam kawasan hutan.


"Jadi nanti semua data akan dikumpulkan. Itu Untuk pengumpulan data primer dan sekunder terkait temuan di sepanjang DAS Bilukpoh. Nanti data dari KLHK dan BRIN akan membicarakan hasilnya seperti apa dan penanganannya seperti apa. Kita tunggu hasil dari BRIN dulu. Tinggal serahkan ke pimpinan daerah untuk ditindaklanjuti," jelas Agus. 

Baca juga: Warga Terdampak Mulai Pemulihan, Pelayanan Penanganan Banjir Jembrana Akan Tetap Dilakukan


Menurutnya, karena peristiwa ini adalah termasuk bencana nasional sehingga penanganan akan melibatkan seluruh pihak. Tidak lagi per sektor. 


Pantauan secara kasar, bahwa di sepanjang hutan blok inti terjadi longsor di banyak titik. Kondisi itu, juga bisa terlihat dari kawasan permukiman. Terutama, di titik paling bawah dari kawasan hutan inti.


"Untuk longsor ada di puluhan titik. Kita sudah ada datanya. Nanti kita sampaikan," sebutnya. 

Baca juga: 14 KK Warga Sekar Kejula Kelod Jembrana Terisolir, Lansia Digendong Lewati Jembatan Darurat


"Saya sebagai penglola kawasan hutan hanya menyampaikan kondisinya di dalam seperti apa. Yakni terjadi tanah longsor di kawasan hutan blok inti,"

 

Selain longsor, kata dia, di sepanjang DAS Bilukpoh masih banyak material pohon sisa longsor yang tersangkut di aliran sungai kawasan hutan inti.

Sebagian juga sudah ada di luar kawasan. Ditakutkan, ketika ada air bah, material itu akan terbawa dan mengakibatkan hal yang serupa di kemudian hari.


Disinggung mengenai upaya mengantisipasi banjir bandang dengan material kayu gelondongan tersebut, Agus Sugiyanto menyebutkan sudah berkoordinasi dengan pihak desa penyanding. 


"Kita sudah carikan solusi. Dalam pemanfaatannya nanti diserahkan ke Desa/Kelurahan. Ini dengan harapan untuk kepentingan sosial lainnya dalam rangka penanganan pasca bencana," katanya sembari menyatakan pihak desa/kelurahan akan melakukan kajian terkait hal tersebut.


Pengelola Hutan Jadi Kader Pelestarian


Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Bali Barat, Agus Sugianto mengatakan, kelompok pengelola hutan secara tidak langsung sebagai kader-kader relawan pelestarian hutan.

Artinya, mereka ikut menjaga kelestarian hutan di kawasan inti dan mengelola zona pemanfaatan sesuai dengan petunjuk teknis tanaman yang diperbolehkan. 


Dan untuk mendukungnya, semestinya para pengelola yang memperoleh hak ini mendapatkan bantuan permodalan dalam upaya penanaman dan sarana pendukung lainnya.

Kelompok-kelompok pengelola hutan ini juga sebagai agen atau relawan menjaga hutan lestari dan solusi pendekatan menghentikan perambahan dan ilegal logging.

Di luar itu (perambahan dan ilegal logging), juga yang harus menjadi perhatian bersama adalah penertiban pipa-pipa air liar hingga ke kawasan hutan.


"Kita buka saja. Pemanfaatan air dari dalam kawasan tanpa terkendali sangat berdampak besar mempengaruhi kualitas resapan di hulu. Kebutuhan air memang perlu, tetapi menurutnya harus diatur bersama-sama agar tidak liar. Sehingga mari kita bersama-sama untuk menjaganya," tegasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Berita Gianyar

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved