Berita Nasional

Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Indonesia Berkurang 28,5 Persen, Pemerintah Target Turun 70 Persen

"Dan berdasarkan hasil penghitungan kami di tahun 2021, sudah terkurangi sekitar 28,5 persen sampah laut," jelas Rofi.

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenko Marves bersama Manager National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia pada pertemuan media briefing dan konferensi pers Road G20 : “Beating Plastic Pollution from Source to Sea”. 


Rofi mencontohkan adanya program transformasi Bali menuju pengelolaan sampah terpadu hal tersebut didasari kondisi eksisting TPA Suwung menerima kiriman sampah sekira 1.200 ton per hari.


"Melihat eksisting ini, TPA Suwung sudah penuh dan harus segera ditutup. Dan saat ini telah dibangun 2 TPST di Badung dan 3 TPST di Denpasar yang bisa memproses 100 persen timbulan sampah menjadi berbagai produk seperti RDF, wood pellet, magot, plastik recycle, pupuk organik, dan lain-lainnya," ucap Rofi.


Manager National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia, Kirana Agustina mengatakan masalah sampah plastik menjadi perhatian serius Indonesia karena dianggap menjadi penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia. 


Karena itu, Presiden Jokowi menekankan dan berkomitmen untuk mengurangi jumlah sampah plastik secara signifikan pada tahun 2025 mendatang. 


Atas dasar itulah sebuah platform yakni National Plastic Action Partnership (NPAP) diluncurkan pada tahun 2019.


“NPAP ini sebagai sebuah platform, bukan yayasan yang beranggotakan tiga orang menteri kabinet, sembilan kementerian, empat pemerintah daerah, 8 CEO, 12 perusahaan nasional, 12 perusahaan multinasional,” kata Kirana.


Lebih lanjut ia menjelaskan hingga akhir 2021, NPAP ini sudah berhasil mengurangi 28,5 persen sampah plastik.

Dan dalam mengatasi sampah plastik ini, mereka bekerja lintas sektor dan lintas institusi yang disebut Pentahelix. 


Di sini, semua lini dilibatkan baik kementerian atau lembaga pemerintah, masyarakat, akademisi, pihak swasta, maupun media.


Dalam mencapai target ambisius pada 2025 itu, NPAP melakukan sejumlah pendekatan di antaranya adalah mengubah perilaku. 


"Melakukan kampanye untuk mengubah perilaku dari yang kurang care pada sampah plastik ke perhatian yang lebih pada sampah plastik karena ada nilai ekonomisnya," katanya.


Dalam rangka G20, Kirana menyampaikan, NPAP akan menyiapkan sebuah pertemuan yang secara khusus akan membahas tentang bagaimana melakukan tindakan konkret dalam mengatasi sampah plastik yang dibuang ke laut pada tanggal 3 sampai 4 November 2022 di Bali.


Pertemuan yang akan digelar NPAP bersama Kemenko Marves dan World Resource Institute Indonesia yakni Road G20: “Beating Plastic Pollution from Source to Sea”.


"Kita mau memperlihatkan kepada dunia bahwa kita tidak hanya berjanji, tidak membuat rencana, tetapi juga melakukannya. Aksi-aksi kita sudah lakukan. Itu memang perlu kita tingkatkan dengan memperkuat kolaborasi," jelasnya.


Selama dua hari pertemuan akan menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Gubernur Bali Wayan Koster, Chairwoman NPAP Indonesia Tuti Putranto, Yenny Wahid, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves Nani Hendriarti dan pembicara terkait lainnya baik nasional maupun internasional.(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved