Berita Jembrana
Hanya Tersisa 5 KK di Posko Korban Bencana Alam di Jembrana, Bantuan Terus Mengalir
Warga Masak Sendiri di Posko Pengungsian *Hanya Tersisa 5 KK di Posko *Bantuan Untuk Korban Bencana Alam Terus Mengalir
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Harun Ar Rasyid
NEGARA, TRIBUN BALI - Sebanyak 5 KK warga Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana masih bertahan di posko pengungsian Balai Tempek Kerta Sari, Minggu 6 November 2022.
Mereka adalah yang rumah tinggalnya terdampak banjir bandang 17 Oktober 2022 lalu.
Untuk kebutuhan hidup, mereka memanfaatkan dapur umum untuk memasak sehari-hari.
"Sekarang masih tersisa 5 KK saja. Mereka sebagian besar rumahnya belum bersih dan belum bisa ditempati," kata Kepala Lingkungan Bilukpoh Kangin, I Komang Suabawa saat dikonfirmasi, 6 November 2022.
Dia melanjutkan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan, warga memanfaatkan peralatan seperti kompor dan bahan pokok di pengungsian.
Mereka memasak secara mandiri di dapur umum yang sebelumnya sudah disediakan.
"Warga yang di posko masak sendiri sehari-harinya. Untuk relawan sudah tidak ada sejak 30 Oktober itu," katanya.
Disinggung mengenai bantuan ke posko pengungsian, Komang Suabawa menyebutkan bantuan terus mengalir dari berbagai pihak.
Dirinya merasa bersyukur karena banyak yang sudah membantu warga yang terdampak bencana alam tahun ini.
Bantuan ini diberikan kepada seluruh korban bencana alam baik yang masih di posko dan sudah memilih tempat di lokasi lain seperti rumah keluarga dan kerabatnya.
"Bantuan terus datang. Kemudian bantuan juga secara rutin diberikan kepada yang tidak ada di posko tapi sebelumnya terdampak," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Jembrana, I Made Sapta Budiarta mengakui, aktivitas warga terdampak bencana alam tiga pekan lalu sudah mulai normal. Meskipun saat ini masih ada warga yang berada di posko pengungsian.
"Sebagian besar sudah kembali ke rumahnya masing-masing maupun rumah kerabatnya," kata Sapta Budiarta.
Disinggung mengenai 10 dapur umum yang dioperasikan, Made Sapta mengakui secara umum sudah tidak beroperasi lagi. Tapi, untuk kebutuhan warga masing-masing mereka masak sendiri di dapur umum tersebut.
"Dapur umumnya tetap ada, hanya warga yang mengungsi menggunakan. Bukan petugas dan relawan yang memasak untuk pengungsi," tandasnya.