Berita Buleleng
Dampak Pembanguan Shorcut di Buleleng, Kebun Warga Desa Gitgit Terendam Lumpur, 50 KK Krisis Air
Sejumlah warga Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, mengeluhkan dampak pembangunan shortcut titik 7 dan 8 di Jalur Singaraja-Mengwitani
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sementara Perbekel Desa Gitgit I Putu Arcana mengatakan, mitigasi ini dilaksanakan sebab banyak warga yang mengeluh terdampak dari pembangunan shortcut.
Pihaknya mengundang beberapa pihak mulai dari pekerja proyek, DLH Buleleng hingga BPBD Buleleng untuk melihat langsung dampak yang dialami warga akibat pembangunan ini.
Disinggung terkait keluhan warga, ada total 50 are kebun milik warga yang tercatat terendam lumpur atau material pembangunan shortcut.
Selain itu ada 50 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Pererenan Bunut yang kini kesulitan untuk mengakses air bersih.
Sebab jaringan pipa yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat kini amblas. Hal ini lantas membuat warga terpaksa mencari sumber mata air lain, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, jembatan pangkung dalem, yang menghunungkan Desa Gitgit dengan Desa Wanagiri juga kerap terendam banjir bandang.
Sebab, sungai mengalami pendangkalan akibat material pembangunan shortcut.
"Hujan dengan intensitas tinggi, lebih dari setengah jam saja, air dengan membawa material lumpur pasti meluap ke jalan. Karena gorong-gorongnya tertutup, dan sungai juga mulai mengalami pendangkalan, pengendara tidak bisa lewat. Perusahaan sudah sempat mengantisipasi, tapi air selalu naik ke jalan," terangnya.
Dari segi pariwisata, Desa Gitgit sejatinya cukup dikenal dengan destinasi air terjunnya. Namun akibat pembangunan shortcut ini, air terjun kini tak lagi jernih.
Hal ini praktis membuat jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis.
"Meski musim hujan, wisatawan itu justru semakin suka karena lebih natural dan airnya bersih. Tapi sekarang sejak ada pembangunan, warna air coklat penuh dengan lumpur. Ada pendangkalan juga," jelasnya.
Melalui mitigasi ini, Arcana berharap PT Sinar Bali Bina Karya dapat memetakan kembali teknis pekerjaannya, untuk meminimalisasi terjadinya dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
"Kami paham sekarang sudah musim hujan, pihak pekerja juga cukup kesulitan mengatasi agar material tidak meluber kemana-mana. Namun kami harapkan hal ini bisa diminimalisir. Kerugian warga yang terdampak juga mohon segera diatasi," katanya.
Sementara salah satu pekerja proyek yang hadir dalam mitigasi tersebut bernama Amik enggan memberikan keterangan kepada awak media, dengan alasan bukan kewenangannya.
Namun Amik menyebut, progres pembangunan shortcut saat ini sudah mencapai 80 persen.
"Tanggal 12 nanti sudah mulai pengaspalan. Lembah-lembah ini nanti akan dibuatkan dinding penahan tanah biar tidak longsor. Masih dalam proses pengerjaan," singkatnya. (*)
Berita lainnya di Berita Buleleng