Berita Buleleng

Dampak Pembanguan Shorcut di Buleleng, Kebun Warga Desa Gitgit Terendam Lumpur, 50 KK Krisis Air

Sejumlah warga Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, mengeluhkan dampak pembangunan shortcut titik 7 dan 8 di Jalur Singaraja-Mengwitani

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Pemerintah Desa Gitgit saat melakukan mitigasi terkait dampak pembangunan shortcut titik 7 dan 8 di Jalur Singaraja-Mengwitani, Kamis 10 November 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Sejumlah warga Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, mengeluhkan dampak dari pembangunan shortcut titik 7 dan 8 di jalur Singaraja-Mengwitani.

Pasalnya, sejumlah lahan perkebunan warga kini terendam lumpur. Bahkan 50 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut kini kesulitan untuk mengakses air bersih. 

Baca juga: Distan Buleleng Bikin Skema Penanganan Rabies Mirip PMK, Pasca Bocah 4 Tahun Meninggal Suspek Rabies

Seperti yang diungkapkan salah satu warga asal Dusun/Desa Gitgit I Nyoman Adiana, saat menghadiri kegiatan mitigasi yang dilaksanakan oleh pemerintah Desa Gitgit, terkait dampak pembangunan shortcut, Kamis (10/11/2022).

Adiana menyebut ia memiliki lahan perkebunan cengkeh dan kopi di Banjar Dinas Pererenan Bunut atau dekat dengan pembangunan shortcut titik 8.

Namun kini perkebunan dengan luas 5 are miliknya terendam lumpur hingga setinggi tiga meter. 

Baca juga: Pemkab Buleleng Akan Salurkan Hibah Adat Rp 30 Miliar

Akibatnya, sejumlah pohon cengkeh dan kopi miliknya banyak yang mati, serta tumbang.

Ini lantaran pekerja proyek membuang limbah atau tanah galian di areal perkebunannya.

Anehnya, saat pembebasan lahan dilakukan, kebun milik Adiana dinyatakan tidak masuk dalam peta pembangunan proyek, sehingga ia tidak mendapatkan ganti rugi lahan.

"Teraseringnya hancur karena limbah tanah galiannya dibuang ke kebun saya," keluhnya. 

Baca juga: Tindakan Asusila Pada Anak di Bawah Umur di Buleleng, 2 Jaksa Ditunjuk untuk Menangani Kasus Simpen

Adiana menyebut, areal perkebunannya terendam lumpur ini sejak Agustus lalu.

Bahkan kondisi ini sudah pernah dilaporkan kepada pihak pekerja proyek dalam hal ini PT Sinar Bali Bina Karya, bahkan hingga ke DPRD Bali.

Kala itu PT Sinar Bali Bina Karya ungkap Adiana berjanji akan memberikan kompensasi kurang lebih Rp15 juta.

Namun hingga saat ini kompensasi tersebut tak kunjung diterima. 

"DPRD Bali sudah turun meninjau juga. Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya, cuma janji-janji saja. Saya bersama warga masih menahan diri untuk tidak demo."

"Kami bersabar, karena ini proyek nasional. Tapi ingat kesabaran kami ada batasnya. Banyak lahan perkebunan warga yang rusak, mohon pemilik proyek segera mengatasi ini, agar kebun kami bisa produktif lagi," kata Adiana. 

Sementara Perbekel Desa Gitgit I Putu Arcana mengatakan, mitigasi ini dilaksanakan sebab banyak warga yang mengeluh terdampak dari pembangunan shortcut.

Pihaknya mengundang beberapa pihak mulai dari pekerja proyek, DLH Buleleng hingga BPBD Buleleng untuk melihat langsung dampak yang dialami warga akibat pembangunan ini. 

Disinggung terkait keluhan warga, ada total 50 are kebun milik warga yang tercatat terendam lumpur atau material pembangunan shortcut.

Selain itu ada 50 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Pererenan Bunut yang kini kesulitan untuk mengakses air bersih.

Sebab jaringan pipa yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat kini amblas. Hal ini lantas membuat warga terpaksa mencari sumber mata air lain, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Selain itu, jembatan pangkung dalem, yang menghunungkan Desa Gitgit dengan Desa Wanagiri juga kerap terendam banjir bandang.

Sebab, sungai mengalami pendangkalan akibat material pembangunan shortcut.

"Hujan dengan intensitas tinggi, lebih dari setengah jam saja, air dengan membawa material lumpur pasti meluap ke jalan. Karena gorong-gorongnya tertutup, dan sungai juga mulai mengalami pendangkalan, pengendara tidak bisa lewat. Perusahaan sudah sempat mengantisipasi, tapi air selalu naik ke jalan," terangnya. 

Dari segi pariwisata, Desa Gitgit sejatinya cukup dikenal dengan destinasi air terjunnya. Namun akibat pembangunan shortcut ini, air terjun kini tak lagi jernih.

Hal ini praktis membuat jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis.

"Meski musim hujan, wisatawan itu justru semakin suka karena lebih natural dan airnya bersih. Tapi sekarang sejak ada pembangunan, warna air coklat penuh dengan lumpur. Ada pendangkalan juga," jelasnya. 

Melalui mitigasi ini, Arcana berharap PT Sinar Bali Bina Karya dapat memetakan kembali teknis pekerjaannya, untuk meminimalisasi terjadinya dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

"Kami paham sekarang sudah musim hujan, pihak pekerja juga cukup kesulitan mengatasi agar material tidak meluber kemana-mana. Namun kami harapkan hal ini bisa diminimalisir. Kerugian warga yang terdampak juga mohon segera diatasi," katanya. 

Sementara salah satu pekerja proyek yang hadir dalam mitigasi tersebut bernama Amik enggan memberikan keterangan kepada awak media, dengan alasan bukan kewenangannya.

Namun Amik menyebut, progres pembangunan shortcut saat ini sudah mencapai 80 persen.

"Tanggal 12 nanti sudah mulai pengaspalan. Lembah-lembah ini nanti akan dibuatkan dinding penahan tanah biar tidak longsor. Masih dalam proses pengerjaan," singkatnya. (*)

Berita lainnya di Berita Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved