Bandara Bali Utara
LIRIK Pembangunan Bandara Bali Utara, Dorong Pengembangan Infrastruktur dan Konektivitas Pariwisata
Pertemuan berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Pratama Denpasar dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, Jumat (29/8)
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Bali dipilih sebagai tempat Perwakilan Asian Development Bank (ADB) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk kunjungan kerja membahas kebutuhan, tantangan, serta potensi kolaborasi dalam pengembangan sektor pariwisata.
Pertemuan berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Pratama Denpasar dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, Jumat (29/8)
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Wayan Sumarajaya, menyampaikan apresiasinya atas terpilihnya Bali sebagai lokasi diskusi. Ia menegaskan, meski industri pariwisata Bali telah berkembang pesat, masih banyak hal yang perlu dibenahi.
“Kita sudah memahami semua atau mungkin dengan pusat juga sudah kita pernah sampaikan bahwa Bali ke depan pembangunan pariwisata di Bali adalah membangun pariwisata budaya yang berkualitas dan bermartabat,” jelasnya.
Baca juga: ANGKUT Sampah Sampai 4 Ton, DLHK Soroti Sampah Pedagang di Pantai Seminyak Tak Terurus!
Baca juga: KECEWA Tole dan Mang Indra Dituntut 13 Tahun Penjara, Kakak Mendiang Made Agus Emosi di PN Gianyar!
Sumarajaya mencontohkan, kondisi pariwisata Bali sangat dipengaruhi jumlah wisatawan mancanegara. Saat pandemi Covid-19, jumlah kunjungan wisatawan asing menurun tajam dan pertumbuhan ekonomi ikut terpuruk hingga minus sembilan persen. Namun, ketika kunjungan wisatawan kembali naik, ekonomi Bali juga ikut pulih.
“Jadi 100 persen dari kedatangan wisatawan asing di Indonesia itu 46 persen dari Bali. Demikian juga dari devisa yang dihasilkan, 107 triliun itu kontribusi dari pariwisata Bali terhadap 243 triliun. Sampai November 2024 atau selama 2024. Artinya bahwa devisa pariwisata Indonesia itu ditopang oleh Bali 44 persen. Tahun 2024 kalau kedatangan wisatawan asing itu 6,4 juta di Bali. Kalau secara nasional 13,9 juta orang,” paparnya.
Ia menambahkan, sektor pariwisata menyumbang 66 persen pertumbuhan ekonomi Bali. Namun, keberhasilan itu juga melahirkan berbagai persoalan. Sumarajaya mengelompokkan tantangan pariwisata Bali menjadi tiga aspek, yakni lingkungan, manusia, dan budaya.
“Yang kita saksikan dan kita rasakan adalah kemacetan semakin tinggi. Kemudian produksi sampah juga semakin tinggi, tentu kondisi ini berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem lingkungan. Kemudian pembangunan terkonsentrasi di daerah selatan ada kesenjangan di dalam antarwilayah kita,” jelasnya.
Dari sisi sosial, ia menyoroti tingginya migrasi penduduk, keterbatasan infrastruktur, serta munculnya komunitas asing eksklusif yang kerap menimbulkan gesekan. Sementara dalam aspek budaya, muncul fenomena pementasan seni Bali yang tidak sesuai pakem, termasuk penodaan tempat suci oleh wisatawan.
“Kemudian permasalahan yang muncul terhadap kebudayaan Bali ini banyak kejadian kesenian Bali yang ditampilkan tidak pada tempatnya atau tidak sepatutnya. Sebagai contoh ada tarian Bali kemudian menggunakan kaset. Atau menggunakan gamelan yang direkam. Jadi seharusnya penari itu satu paket dengan gambelannya. Jadi ada penghargaan bagi masyarakat lokal yang memang melestarikan kebudayaan Bali,” tegasnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Herfan Brilianto Mursabdo, menegaskan pentingnya kolaborasi pusat, daerah, dan ADB untuk memperkuat pengembangan pariwisata Bali.
“Kedatangan kami bersama Asian Development Bank dan tim kemenpar adalah ingin diskusi dengan pemda terkait kek nantinya dalam rangka mendapat masukan update kondisi terkini pariwisata di Bali dan kita diskusi langkah-langkah yang perlu ditempuh antara pempus dan pemda serta kolaborasi dengan Asian Development Bank nantinya dalam rangka semakin majukan kepariwisataan di Bali dan kita tahu bahwa Bali pusat pertumbuhan dari aspek pariwisata,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah pusat bersama daerah terus mendorong pengembangan infrastruktur, konektivitas, hingga wacana pembangunan bandara baru di Bali Utara. Selain itu, isu lingkungan seperti pengelolaan sampah, pemeliharaan kawasan pesisir, serta investasi juga menjadi fokus utama.
“Tujuan kami selain diskusi juga untuk menginventarisasi hal-hal yang mungkin nanti dapat dikolaborasikan khususnya mendengar dari daerah terkait kebutuhan dukungan lebih kuat dari pemerintah pusat baik dari sisi SDM-nya, pengetahuannya, atau dari sisi pembukaan akses pasar ataupun peningkatan suplai chain pariwisata keseluruhan,” ungkapnya. (sar)
Posisi Strategis Bali
| PT BIBU Perkuat Komitmen Realisasikan Bandara Bali Utara! GAET PowerChina untuk Sistem Energi Hijau |
|
|---|
| Pembangunan Bandara Bali Utara Diharapkan Selaras Dengan Nilai Budaya Buleleng |
|
|---|
| DUKUNG Bandara Bali Utara, Kemenhub dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Berikan Alasannya ! |
|
|---|
| USUNG Konsep Tri Hita Karana dan Bedawang Nala, PT BIBU Pamerkan Desain Bandara Bali Utara |
|
|---|
| BANDARA Bali Utara di Depan Mata, PT BIBU Pamerkan Desain Paduan Teknologi Modern & Tri Hita Karana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Arti-mimpi-tentang-melihat-pesawat-terbang.jpg)