Berita Gianyar
Upacarai Roh Gentayangan Zaman Kerajaan, TPB Gelar Upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik
Upacarai Roh Gentayangan Zaman Kerajaan, TPB Gelar Upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pasraman Taman Prakerthi Bhuana (TPB) Kelurahan Beng, Gianyar menggelar upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik, Senin 6 Maret 2023 siang.
Upacara ini bertujuan menyucikan Bhutacuil atau roh gentayangan, yang tewas dalam peperangan pada masa kerajaan I Dewa Anom selaku pemimpin di daerah Beng, yang kala itu wilayah ini bernama Alas Bengkel.
Upacara ini dihadiri berbagai tokoh-tokoh penting di Pemerintah Kabupaten Gianyar dan nasional.
Mulai dari Bupati Gianyar, Made Mahayastra, Kapolres Gianyar, AKBP Bayu Sutha Sartana, Dandim Gianyar, Letkol Inf Eka Wira hingga Stafsus Presiden RI, AA GN Ari Dwipayana. Upacara ini dipimpin olah banyak sulinggih.
Bendesa Desa Adat Beng, Dewa Putu Oka menjelaskan kondisi Beng pada masa kerajaan.
Kata dia, berdasarkan cerita beberapa penglingsir Desa Adat Beng, bahwa dulu sekitar tahun 1450an sudah ada penguasa wilayah Alas Bengkel (sekarang Beng) yang bernama I Dewa Anom.
Beliau memiliki istri bernama Gusti Ayu Pahang. Awalnya penduduk yang tinggal di sini sedikit.
Namun lama kelamaan menjadi ramai. Merekapun hidup makmur dengan menanam tanaman pangan.

Ramainya penduduk di Alas Bengkel ini pun menjadi perhatian Raja Buleleng, Gusti Panji Sakti.
Karena penasaran, Panji Sakti pun mengutus inteligennya untuk mencari tahu tentang Alas Bengkel.
Setelah diselidiki ternyata memang benar bahwa Alas Bengkel sudah rame penduduknya dan ada kepala desa yang bernama I Dewa Anom.
Mendengar lapoan dari utusannya, Raja Buleleng pun tertarik untuk menguasai wilayah ini.
Lalu dikirimlah pasukan untuk mengganggu dan menyerang Desa Alas Bengkel yang diawali dengan merusak kebun-kebun penduduk yang sedang tumbuh sumbur dengan pasukan gajahnya.
Melihat kejadian tersebut, penduduk lantas melapor ke Dewa Anom sebagai penguasa Desa Alas Bengkel.
Mendengar laporan tersebut, I Dewa Anom sangat marah, lalu mempersiapkan perlawanan.
Pada saat berpamitan dengan istrinya, I Dewa Anom diberikan sebilah senjata oleh istrinya.
Sebelumnya, senjata itu ditemukan di dalam pohon dapdap yang hanyut pada saat beliau mandi di sungai Panti.
Senjata tersebut bisa digunakan sebagai pertahanan saat berperang melawan musuh.
Akhirnya berangkatlah pasukan I Dewa Anom menemui dan menjemput Pasukan Ki Gusti Jelantik menuju arah barat laut (tempat kebun warga dirusak) dan terjadilah pertempuaran sengit antara pasukan I Dewa Anom melawan pasukan gajahnya Gusti Panji Sakti.
Singkat cerita, pasukan Gusti Panji Sakti dapat dikalahkan oleh pasukan I Dewa Anom dengan senjatanya yang disebut pering gading.
Sementara senjata Dewa Anom, karena selalu melukai pelipis korban, maka senjata itu disebut Ki Baru Alis.
"Dari proses terjadinya pertempuran tersebut, sudah tentu banyak korban jiwa yang tidak sempat diupacarai oleh penguasa saat itu, sehingga roh-roh yang tidak diupacarai tersebut menjadi pengganggu (Bhutacuil) dan gentayangan di wilayah sekitar tempat peperangan tersebut terjadi, di wilayah Jero Kuta yang merupakan pusat pemerintahan Desa Alas Bengkel, saat ini adalah kawasan Subak Ambengan, Subak Lombok, Subak Dudus, dan Subak Kacang Bedol," ujarnya.
Pihaknya pun berterima kasih pada Ida Bagus Mangku Adi Suparta selaku pemilik TPB, karena telah menggelar upacara ini.
Upacara ini sesuai dengan petunjuk sastra Lontar Yoga Segara Bumi, Lontar Gong Wesi, Lontar Lebur Sangse.
"Disertai dengan keinginan yang tulus dari Ida Bagus Aji (Suparta), sehingga dilaksanakan upacara ini dengan tujuan menyucikan sahe melebur sarwa letuh ring Buana Alit lan Buana Agung yang diakibatkan oleh adanya korban peperangan yang belum diupacarai (diabenkan) dari jaman dulu dan kemungkinan juga adanya korban meninggal ulah pati, meninggal salah pati di bekas wilayah yang merupakan wilayah pusat pemerintahan I Dewa Anom," ujarnya.
Bupati Gianyar, Made Mahayastra mengucapkan terima kasih atas upacara yang digelar oleh Ida Bagus Mangku Adi Suparta, karena telah membantu pemerintah dalam menggelar upacara ini.
"Saya sebagai Bupati, salut sama beliau. Karena rela dan ikhlas secara pribadi menggelar upacara yang membutuhkan dana hampir Rp 1 miliar. Tentu pemerintah sangat terbantu oleh ketulusan beliau dalam menjaga kesucian wilayah," ujar Mahayastra. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.