Mengurai Masalah Tanah Bali dengan Film Pendek Kampanye Lestari dalam Tradisi

Indonesia Corruption Watch (ICW) dan BaleBengong mengadakan peluncuran film pendek di Kulidan Kitchen and Space

Editor: Fenty Lilian Ariani
ist
Mengurai Masalah Tanah Bali dengan Film Pendek Kampanye Lestari dalam Tradisi 

Warga Bali mulai kesulitan mendapat air bersih dan bercocok tanam.

Namun, permasalahan yang banyak ini tampak sulit diselesaikan karena sulitnya ruang bersuara dan masih minimnya transparansi dalam pengelolaan tanah di Bali.

“Bali tidak baik-baik saja, tapi kelihatan baik. Sekebedik tanah (sedikit demi sedikit) hilang,” ujar Puja Astawa, pembuat konten yang sangat produktif membuat video dalam bahasa Bali.

Sedangkan Wayan Martino, sutradara dari Niskala Studio menambahkan timnya tertarik membawa tema perempuan karena kerap termarjinalkan.

Dalam filmnya ia menunjukkan kebingungan tokohnya menghadapi beragam masalah sehingga menyebabkan trauma berkepanjangan.

"Saya menghadirkan tema perempuan, karena ketika ada persoalan apapun, terutama soal tanah, yang paling mendapatkan masalah itu perempuan," jelas I Wayan Martino.

Karena itulah, ICW bersama BaleBengong membuat kampanye Lestari dalam Tradisi, sebuah rangkaian kampanye digital untuk membuka ruang pembicaraan terkait masalah tanah di Bali.

Kampanye ini berlangsung sejak Februari - Maret 2023 dalam bentuk konten digital dan film pendek.

Kampanye ini hanyalah awal dan pemantik untuk membicarakan masalah tanah di Bali.

Agus Sunaryanto, Koordinator ICW mengingatkan dari film fiksi ini bisa menunjukkan substansi masalah-masalah tanah, tak hanya di Bali.

Di antaranya mafia tanah yang bekerja secara terorganisir.

Dalam konteks lebih luas, pihaknya pernah memetakan konflik agraria yang terkait dengan korupsi.

Terakhir, dari catatan ICW pada 2021-2022, ada 53 kasus pertanahan dan agraria di Indonesia dengan 149 tersangka mulai dari pegawai pertanahan, perangkat desa, pejabat pembuat akte tanah, dan lainnya.

Jika direfleksikan dari Bali, masalah tanah menurutnya dua sisi mata uang.

Satu sisi menambah devisa, sisi lainnya berdampak pada lingkungan, air tanah, dan sampah.

Tanah di Bali bukan hanya lahan, tapi ia penentu keseimbangan ekosistem dan kelestarian budaya Bali.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved