Maestro Karawitan Berpulang

Maestro Karawitan Bali I Wayan Suweca Dikremasi di Setra Badung Denpasar, Sosok yang Sederhana

Maestro Karawitan Bali I Wayan Suweca Dikremasi di Setra Badung Denpasar, Sosok yang Sederhana

Tribun Bali/Putu Supartika
Pengabenan maestro Karawitan Bali I Wayan Suweca di Setra Badung, Bali, Minggu 28 Mei 2023. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jenazah maestro karawitan Bali asal Denpasar I Wayan Suweca diaben di Krematorium Setra Badung pada Minggu, 28 Mei 2023.


Sejak pagi sekitar pukul 07.00 Wita kerabat sudah berdatangan ke krematorium Setra Badung untuk mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Baca juga: PROFIL Wayan Suweca, Maestro Karawitan Bali: Penggagas Lomba Gender Wayang, Punya Banyak Penghargaan


Prosesi diawali dengan memandikan jenazah, ngeringkes, persembahyangan dan kemudian proses pembakaran jenazah hingga prosesi melarung jenazah.


Isak tangis mewarnai prosesi kremasi, di mana dua putri almarhum tak kuasa menahan tangis saat prosesi memandikan jenazah maupun saat pembakaran jenazah.

Baca juga: BREAKING NEWS - Maestro Karawitan Bali I Wayan Suweca Berpulang, Bawa Gamelan Keliling Dunia


Putri pertama almarhum, Ni Putu Hartini menuturkan, sang ayah adalah sosok yang sangat bijaksana.


Selain itu, beliau juga sosok yang sederhana dan setia menuntun anak maupun cucu.

Baca juga: Penghormatan untuk Almarhum Maestro Tari Berko, Sertifikat Menteri Iringi Pengabenan Dadong Barak


"Beliau tidak pernah menyerah, apapun yang orang lain katakan, beliau sabar dan tetap pada pendirian jika diyakini itu benar," tutur Hartini yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Diketahui, I Wayan Suweca berpulang pada Selasa, 23 Mei 2023 pukul 07.00 Wita pada usia 75 tahun.

Baca juga: UPDATE: Puncak Pelebonan Maestro Seni Drama Puri Abianbase Gianyar, Gung Raja Ucapkan Terima Kasih

Almarhum telah dirawat sejak Sabtu 20 Mei 2023 dengan keluhan komplikasi karena mengidap diabetes dan berpulang di Rumah Sakit Puri Raharja.


Hartini mengatakan, sang ayah terakhir kali pentas magambel di Pura Besakih saat Pangerupukan Nyepi pada Maret 2023 lalu.


I Wayan Suweca merupakan pria kelahiran 31 Desember 1948 yang lekat dengan dunia gamelan sejak kecil.

Baca juga: Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya, Maestro Drama Gong di Mata Seniman Gianyar


Saat umur tujuh tahun, ia sudah belajar memainkan gamelan gender wayang.


Darah seni mengalir dari keluarganya, sehingga dalam kesehariannya selalu disibukkan dengan berlatih magambel


Bisa dibilang kegiatan memainkan gamelan sebagai bagian dari aktivitas bermain dalam kesehariannya.


Walau demikian, ia bersama anak-anak lainnya juga biasa jalan-jalan ke Pantai Sanur, mandi di Dam Oongan, dan menikmati udara segar di sawah.


Selain sebagai seniman, ia juga seorang pendidik dan sempat menjadi dosen di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar.


Pria yang selama hidupnya tinggal di Jalan Noja Saraswati No 9 Kesiman Petilan Denpasar itu juga mengajar orang asing di luar negeri khusus memainkan gamelan, seperti gender wayang.


“Beliau hampir sepuluh tahun mengajar di Amerika Serikat. Giat mengajar mahasiswa di sana memainkan gamelan, baik itu kepada penabuh laki-laki atau pun perempuan, karena disana laki dan perempuan sama saja,” katanya.


Saat di Amerika, ia heran, laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memainkan gamelan secara baik.


Pengalaman unik tersebut kemudian menjadi inspirasi untuk mencoba membentuk sekaa gong yang pemainnya merupakan para wanita Bali.


Suweca kemudian mengawali membentuk sekaa gong wanita di Kota Denpasar tepatnya, di Jalan Hayam Wuruk No. 4 Banjar Kayumas, Denpasar.


Nama I Wayan Suweca pun sudah tak asing lagi dalam dunia seni karawitan Bali dan memiliki spesialisasi kendang.


Seniman asal Banjar Kayumas Denpasar ini merupakan penggagas lomba gender wayang yang kini menjadi materi dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).


Selain itu, ide membentuk penabuh wanita juga lahir dari buah pikirnya yang terinspirasi setelah ia ikut mendirikan Sekaa Gong Sekar Jaya di California Amerika.


Di samping itu, Suweca juga mengawali lomba mekendang tunggal yang kini menjadi tren bagi kalangan seniman muda.


Beberapa penghargaan pun sudah pernah diraihnya, seperti Kerti Budaya dari Walikota Denpasar pada tahun 2014, penghargaan Pengabdi Seni pada pelaksanaan PKB ke-39 tahun 2017 dan menerima piagam Dharma Kusuma dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tahun 2019.


Penghargaan seni ini diberikan khusus kepada orang yang berhasil melestarikan kesenian Bali, melakukan pembinaan dan mengembangkan dengan berbagai kreativitas mencipta seni baru.


Pada tahun 2021 lalu, ia juga menjadi salah satu penerima penghargaan Adi Sewaka Nugraha dari Pemprov Bali. (*)

 

 

Berita lainnya di Maestro Berpulang

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved