Berita Gianyar

Kualitas Udara Ubud Sentuh Level Buruk, Bupati Mahayastra Akan Cari Tahu Penyebabnya

Indek kualitas udara pada situs Iqair sempat menyentuh buruk, yaitu berada pada angka 155 AQ US pada Selasa (16/8) pukul 09.00 Wita.

TRIBUN BALI/ Wayan Eri Gunarta
Padat Kendaraan - Kondisi lalu lintas di kawasan Ubud, Gianyar padat kendaraan, Kamis (17/8). 

TRIBUN-BALI.COM - Indek kualitas udara pada situs Iqair sempat menyentuh buruk, yaitu berada pada angka 155 AQ US pada Selasa (16/8) pukul 09.00 Wita.

Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Dengan angka tersebut, Ubud berada di bawah DKI yang berada di peringkat kelima dengan angka kualitas udara 158 AQI U. Namun berdasarkan pantauan Tribun Bali dalam aplikasi tersebut, angka kualitas udara tersebut berubah-ubah.

Seperti pada Kamis (17/8) pukul 12.56 Wita, level udara Ubud kembali ke level sedang, yakni 62 AQI U.

Bupati Gianyar, I Made Mahayastra saat dikonfirmasi, Kamis (17/8) belum memercayai indek kualitas udara tersebut. Sebab, di Ubud tidak terdapat industri yang menghasilkan asap. Bahkan, jika barometer udara Ubud diukur karena kemacetan, jauh di bawah Kota Denpasar.

Sebab, kata Mahayastra, kemacetan di Ubud lebih disebabkan jalan yang sempit. Karena itu, meskipun tiap hari Ubud terlihat macet, namun volume kendaraannya jauh di bawah volume kendaraan di Denpasar.

Selain itu, di Ubud juga masih terdapat banyak ruang hijau, tegalan, sawah dan pepohonan yang tumbuh subur di setiap tempat.

Baca juga: Presiden Jokowi Incar Lima Besar Dunia! Tampil dengan Kekuatan Ekonomi Lebih Perkasa

Baca juga: VIRAL! Polsek Tegalalang Selidiki Perusakan Palinggih di Banjar Ked Tegalalang Gianyar Bali

Kondisi lalu lintas di kawasan Pariwisata Ubud, Gianyar, Bali, Kamis 17 Agustus 2023
Kondisi lalu lintas di kawasan Pariwisata Ubud, Gianyar, Bali, Kamis 17 Agustus 2023 (TRIBUN BALI/ Wayan Eri Gunarta)

"Biasa, hambatan, tantangan, hal positif tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semakin kita membangun, seperti di Jakarta, pastinya banyak kegiatan, banyak hal yang dikerjakan. Baik skala nasional dan internasional. Sehingga polusi ada di sana (Jakarta). Sementara di Ubud tentu, sebagai trafick senter nasional.

Saya yakin tingkat udaranya masih terjaga. Pohon masih banyak. Tapi jika memang ada survei yang mengatakan kualitas udara buruk. Ya kita akan cari tahu penyebabnya. Nanti kita akan diskusikan pada mereka yang mengerti.

Jika tidak ada industri. Tentu, sumbernya adalah kendaraan. Tapi kan, di sana jalannya kecil-kecil. Tapi kalau bicara jumlah mobil, paling banyak di Denpasar sebenarnya. Karena di Denpasar, jalannya besar-besar. Nanti kita akan cari tahu kenapa kualitas udara Ubud bisa dikatakan tidak sehat. Setelah kita tahu, baru kita akan carikan solusinya," tandas Mahayastra.

Kapolres Gianyar, AKBP I Ketut Widiada juga tak sepaham jika kemacetan Ubud menjadi penyebab kualitas udaranya buruk. Meski demikian, pihaknya akan tetap mengupayakan agar lalu lintas Ubud bisa lancar. "Saat ini pariwisata sudah pulih, banyak wisatawan mancanegara dan domestik yang lancong ke Ubud, sehingga volume kendaraannya padat," ujarnya.

Ia tak menampik jika pasca pihaknya berhasil membersihkan parkir liar, kemacetan masih terjadi. Ke depan, pihaknya akan melakukan perubahan arus, mencarikan kantung parkir pada bus besar. Dimana kantung parkir ini harusnya di luar pariwisata Ubud. Seperti di Pasar Tradisional Singakerta yang saat ini tak berfungsi maksimal dan areal parkir timur Pasar Desa Sayan.

Tak hanya itu, Kapolres juga meminta agar masyarakat tidak menurunkan material bangunan saat jam sibuk. "Penurunan material bangunan juga menjadi penyebab kemacetan. Kami imbau agar material diturunkan saat pagi hari, atau tidak di jam-jam sibuk," tandasnya. (weg)


Denpasar Akan Beralih Kendaraan Listrik

KUALITAS udara di beberapa daerah di Indonesia menjadi sorotan karena tingkat polusi udaranya yang tinggi. Meskipun demikian, sampai saat ini secara nasional kualitas udara di Denpasar masih baik atau hijau.

Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara mengatakan, kualitas udara di Denpasar masih terjaga karena keberadaan pohon besar di jalan protokol. Meskipun kepadatan kendaraan cukup tinggi, pohon ini mampu mengendalikan gas karbon dan polusi yang timbul. “Kita bisa lihat di seputaran Jalan Puputan Renon ada banyak pohon besar, dan juga di beberapa jalan protokol. Itu yang menyerap polusi,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved