Wawancara Khusus

Wawancara Rektor UNHI Prof Damriyasa: Haluan 100 Tahun Ke Depan Jadi Pedoman Para Pemimpin di Bali

Haluan Pembangunan Bali sebagai peta jalan bagi para pemimpin generasi selanjutnya dalam melakukan pembangunan Bali.

Penulis: Ida Bagus Putu Mahendra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/Ida Bagus Putu Mahendra
Wawancara Rektor UNHI Prof Damriyasa: Haluan 100 Tahun Ke Depan Jadi Pedoman Para Pemimpin di Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - PARA pemangku kebijakan di Bali menghasilkan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru.

Haluan Pembangunan Bali ini sebagai peta jalan bagi para pemimpin generasi selanjutnya dalam melakukan pembangunan Bali.

Bagaimanakah seluk beluk penyusunan haluan ini, berikut penjelasan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Prof Dr drh I Made Damriyasa MS sebagai Koordinator Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali kepada Pemimpin Redaksi Tribun Bali, Komang Agus Ruspawan, Senin 28 Agustus 2023.

Wawancara khusus ini merupakan rangkaian Road Show para narasumber untuk acara akbar Talk Show Mata Lokal Memilih Series dengan topik: Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali ke Depan dan Harapan terhadap Presiden ke-8 RI, yang digelar Tribun Bali pada Sabtu 2 September 2023 pagi di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar.

Baca juga: Gubernur Bali Wayan Koster Sampaikan Pidato Pencapaian Kinerja 5 Tahun Tatanan Bali Era Baru

Pak Rektor sebagai koordinator kelompok ahli pembangunan Provinsi Bali, bisa dijelaskan apa itu haluan pembangunan 100 tahun Bali ke depan dan konsepnya seperti apa?

Haluan pembangunan Bali 100 tahun, Bali era baru mulai tahun 2025-2125 ini disusun untuk menjadi pendoman pembangunan Bali ke depan, terutama dalam kurun waktu satu abad, 100 tahun, dengan konsep bagaimana menjaga keharmonisan alam manusia dan kebudayaan Bali.

Ada 3 aspek utama yang menjadi modal pembangunan Bali, jadi alam, manusia dan budaya.

Jadi oleh karena itu di dalam dokumen sebagai lampiran dalam Perda No 4 tahun 2023 tentang haluan pembangunan Bali 100 tahun, Bali era baru, itu dimuat tentang Bali tempo dulu, kemudian Bali masa kini, kemudian Bali masa depan, 100 tahun ke depan.

Di dalam Bali tempo dulu itu juga dimuat tentang bagaimana alam Bali tempo dulu, kemudian bagaimana manusia Bali tempo dulu, kemudian bagaimana kebudayaan Bali tempo dulu, sehingga Bali menjadi seperti ini.

Jadi Bali menjadi contohnya sebagai destinasi wisata dunia. Jadi apa yang harus kita jaga ke depan dalam membangun Bali sehingga terus terjadi keharmonisan antara alam, manusia dan kebudayaan Bali.

Kemudian di dalam dokumen tersebut juga dijelaskan terkait dengan Bali masa kini, yaitu Bali dari masa kemerdekaan sampai saat ini, apa yang telah dibangun oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Kemudian juga di dalam dokumen haluan pembangunan Bali 100 tahun, Bali era baru ini juga memuat suatu peristiwa yang tidak pernah kita duga, yaitu terkait dengan penanganan pandemi Covid-19.

Untuk menyusun haluan pembangunan Bali 100 tahun ke depan, kita harus juga memahami, menganalisis kondisi saat ini, kemudian apa yang menjadi tantangan dan permasalahan ke depan.

Dari sana lah disusun strategi-strategi apa yang dilakukan dalam selalu mengharmoniskan antara alam manusia dan kebudayaan Bali.

Jadi dianalisis dari jumlah penduduk, nanti 100 tahun ke depan berapa jumlah penduduknya. Kemudian dari sana kita bisa mengetahui berapa kebutuhan pangannya, sandangnya, kemudian kebutuhan papannya. Perlu didesain pembangunan Bali ke depan.

Ini artinya sudah jadi perdoman di masa jauh ke depan sudah diperhitungkan?

Jadi ada arah dan kita memiliki haluan. Kalau mau membangun Bali, tetap menjaga alam, manusia dan kebudayaan.

Haluan ini berbeda dengan roadmap?

Ya berbeda. Nanti haluan ini bisa dituangkan dalam bentuk peta jalan, apakah 20 tahun. Setiap 20 tahun. Dan ini nanti menjadi perdoman dalam menyusun rencana pembangunan jangka panjang. Kemudian untuk juga menyusun rencana pembangunan jangka menengah.

Jadi kemudian ini momennya juga sangat tepat sekali.

Apalagi di dalam peraturan daerah ini kan siapapun nanti menjadi pemimpin di Bali, baik itu legislatif maupun eksekutif, wajib mempedomani haluan pembangunan ini.

Tahun 2024 ini kan pemilihan umum serentak. Sehingga tahun 2025 itu semua menyusun RPJPD, RPJMD. Kalau tidak ada haluan kan yang Jembrana misalnya ke Timur, yang Karangasem ke Barat.

Kalau diberikan haluan berarti dalam menyusun RPJPD, RPJMD semua sesuai dengan haluan ini.

Jadi sudah ada pedoman. Tinggal sekarang masing-masing pemimpin berikutnya menyusun strategi bagaimana supaya haluan ini bisa terwujud.

Kira-kira ihwal penyusunan materi haluan ini seperti apa? Siapa saja sih yang terlibat orang-orang yang di dalam, mungkin tokoh-tokoh atau siapa yang dilibatkan?

Ya, jadi ini kan kalau dilihat dari waktu penyusunannya dengan dokumen yang begitu lengkap cukup singkat sebenarnya.

Tetapi karena kebiasaan Pak Gubernur, Pak Koster kerjanya kan memang cepat. Kemudian juga kita tidak mengenal waktu untuk menyusun ini.

Jadi, setiap ada program-program yang harus kita selesaikan itu paling cepat lah selesai setengah satu (dini hari).

Kalau ini kan dari segi tahapannya saya kira sudah cukup matang. Jadi, yang pertama ada FGD terbatas untuk menyusun kerangkanya. Kemudian ada FGD diperluas dengan mengundang beberapa tokoh terutama akademisi dari berbagai disiplin ilmu, dari semua unsur-unsur yang diperlukan dalam penyusunan haluan pembangunan ini.

Kemudian setelah FGD diperluas dilakukan seminar. Kemudian dilakukan selanjutnya dengan mengundang pemerintah pusat.

Baik dari BAPENAS, kemudian dari BPIP, kemudian dari BRIN. Dari sana diberikan masukkan-masukkan, kemudian baru disempurnakan. Kemudian baru diajukan bersama-sama, dapat diajukan ke DPRD untuk dibahas sesuai dengan bagaimana proses pengusulan dari peraturan daerah.

Artinya tahapannya memang sudah lengkap?

Kalau menurut saya ini dari aspek ilmiahnya, ini sudah melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Ini juga dari awal sudah disampaikan oleh media, sehingga masyarakat diberikan peluang untuk memberikan masukkan-masukkan.

Jadi ini sudah sangat komprehensif terkait dengan haluan Bali 100 tahun ke depan.

Karena ini kita menyusun nasibnya Bali 100 tahun, ini kan harus melibatkan semua pihak.

Sudah ditetapkan oleh DPRD, kemudian juga Kemendagri sehingga dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah yang sudah diundangkan.

Dan juga sudah dipasupati?

Nah secara niskala malah sudah dipasupati di Besakih.

Artinya tidak hanya secara sekala melalui Peraturan Daerah dan disaksikan Ida Bathara-Bathari yang melinggih di Penantaran Agung Besakih bahwa kita punya komitmen untuk melaksanakan haluan pembangunan Bali 100 tahun Bali era baru.

Jadi itu adalah komitmen kita, komitmen masyarakat Bali. Tidak hanya komitmen siapa pun menjadi pemimpin Bali ke depan.

Di luar sebagai tim, ikut menyusun ini juga dari kacamata akademisi dan perguruan tinggi, ini kita di perguruan tinggi juga punya haluan.

Jadi riset-riset, program-program apa yang bisa kita lakukan untuk membangun Bali 100 tahun ke depan.

Karena haluannya sudah ada, tinggal sekarang menuangkan ke dalam misalnya peta jalan, riset yang ada di perguruan tinggi dengan spesifikasi masing-masingnya.

Misalnya kalau kami dari UNHI, dari aspek tradisi, misalnya dari aspek budaya, apa yang riset-riset bisa kami kembangkan di UNHI.

Haluan pembangunan 100 tahun Bali ini tidak bicara hanya soal kepemimpinan, tapi juga termasuk ke pendidikan?

Termasuk ke pendidikan, termasuk juga haluan dari aspek pelaku ekonomi. Bisa dipelajari dari sini. Jadi ibaratnya kalau kendaraan, sudah ada jalannya. Tinggal supirnya menginjak gas saja.

Bagaimana Prof menilai lahirnya Perda haluan pembangunan Bali 100 tahun ke depan?

Kalau saya sih melihat bahwa kewajiban. Kalau misalnya daerah itu memiliki, Negara pun memiliki haluan untuk membangunnya.

Baru Bali saja yang sepertinya punya haluan ini, betul demikian Pak?

Kalau dilihat dari apa yang disampaikan oleh Menteri Bappenas, Itu baru Bali yang memiliki haluan pembangunan 100 tahun, yang dituangkan dalam bentuk peraturan daerah. Di pusat belum ada. Mungkin perlu jadi percontohan lah.

Tapi kalau saya melihat, Bali kelihatannya memang selalu lebih dulu.

Misalnya seperti badan riset dan inovasi daerah, itu di Bali kan ada sebelum badan riset dan inovasi nasional (BRIN).

Nah, kemudian terkait dengan haluan pembangunan Bali 100 tahun, Bali era baru, belakangan ini kan juga dilaunching Bali Development Fund.

Jadi, lembaga pembiayaan untuk pembangunan Bali. Ini juga menjadi pasangannya lah. Ibaratnya kendaraannya ada, jalanannya ada, kemudian bensinnya juga harus ada.

Jadi, apakah Prof ini menilai bahwa ini sebuah gagasan yang visioner dari Pak Gubernur Koster?

Saya kira sangat visioner terkait dengan program-program yang disiapkan.

Dan ini semua adalah untuk menyelamatkan Bali. Terutama tiga unsur utama ini, alam, manusia dan budaya.

Perlu ditiru juga oleh pusat?

Tergantung dari potensi karakteristik dari daerah masing-masing.

Apa kira-kira pesan dan harapan Prof kepada generasi muda, mahasiswa, dan juga masyarakat Bali dengan sekarang lahirnya atau ditetapkan haluan pembangunan Bali 100 tahun ke depan ini sebagai Perda?,

Ya, jadi dengan adanya haluan pembangunan Bali 100 tahun Bali, era baru ini, kan saya sampaikan tadi memuat bagaimana Bali tempo dulu, masa kini, dan kemudian apa permasalahan dan tantangannya, apa yang harus kita lakukan ke depan untuk menjaga Bali tetap harmonis antara alam, manusia dan kebudayaan ini.

Tentu sebagai generasi muda ke depan itu bagaimana secara konsisten melaksanakan sesuai dengan haluan ini, dengan strategi-strategi yang disesuaikan dengan kondisi nanti ke depannya.

Jadi paling tidak, kita sudah disediakan ini haluannya.

Kemudian kreatifitas, aktivitas ke depan kita jauh lebih gampang dan lebih terarah, dibandingkan tidak mempunyai arah dan tujuan yang jelas.

Dan ini saya kira adalah warisan dari generasi saat ini kepada generasi penerusnya untuk menjaga Bali. (mah)

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved