Berita Gianyar

Musim Kemarau, Kadiskes Gianyar Sebut Air Rawan Bakteri Ecoli

Dinas Kesehatan (Diskes) Gianyar, Bali terus memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat di tengah musim kemarau.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
ilustrasi - Kondisi air di Gianyar 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dinas Kesehatan (Diskes) Gianyar, Bali terus memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat di tengah musim kemarau.

Sebab, musim kemarau menyebabkan masyarakat Gianyar rentan terkena penyakit.

Mulai dari inspeksi saluran pernapasan (Ispa), karena udara berdebu hingga terkontaminasinya sumber air oleh bakteri ecoli. 

Baca juga: Pemkab Gianyar Masih Belum Temukan Kemiskinan Ekstrem Sesuai Data BPS


Kepala Dinas Kesehatan Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, Kamis 12 Oktober 2023 mengatakan, musim kemarau membuat penyakit mudah berkembang.

Di mana, musim kemarau menyebabkan udara kering dan udara berdebu. Ditambah lagi dengan musim kemarau identik dengan musim buah, maka dipastikan jumlah lalat relatif lebih banyak.

Lalat ini, kata dia, menyebabkan lingkungan menjadi tidak sehat, dan memperbesar resiko terkontaminasinya air dengan bakteri ecoli.

Baca juga: Pemkab Gianyar Masih Belum Temukan Kemiskinan Ekstrem Sesuai Data BPS


"Pada musim kemarau kondisi air berbeda dengan musim hujan. Pada musim hujan, air lebih banyak dan mengalir, sedangkan pada musim kemarau, ketersediaan air menurun, air tidak mengalir dan konsentrasi kuman lebih meningkat," ujar Ariyuni.

Dalam mengantisipasi hal tersebut, pihak tengah mengawasi persediaan air bersih masyarakat.

Seperti, kualitas sumber air PDAM, sumber air Pamsimas, dan sebagainya.

Baca juga: Capaian PAD Gianyar di Sektor Pajak Rp816 Miliar, Sebulan Rata-Rata Rp100 Miliar

"Hasil pengawasan tersebut kita rekomendasikan ke lembaga pengelola air minum. Untuk masyarakat yang masih mengakses air dari mata air, kita berikan edukasi ke masyarakat agar mengkonsumsi air yang telah dimasak," ujar Ariyuni.


Kata dia, edukasi tersebut penting dilakukan, mengingat masyarakat Gianyar di pendesaan banyak yang memanfaatkan mata air dari dalam tanah atau 'yeh klebutan' untuk dikomsumsi sehari-hari tanpa dimasak.

"Musim panas menyebabkan konsentrasi kuman pada air semakin tinggi, hal ini menyebabkan kejadian diare menjadi lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan, ini harus diwaspadai," tandasnya.

Baca juga: Putusan MA Haruskan Golkar Gianyar Ganti Satu Bacaleg Laki-Laki


Selain itu, yang tak kalah pentingnya ialah memberantas sarang nyamuk penyebab demam berdarah.

Sebab, berkurangnya curah hujan pada musim kemarau menyebabkan tempat-tempat yang terdapat genangan air tidak tersapu oleh air hujan, sehingga tempat tersebut menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

"Jadi, ada banyak hal yang kita harus waspadai ketika musim kemarau. Sebab, di musim ini perkembangan penyakit sangat pesat," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved