I Made Subandi Meninggal Dunia
Profil dan Sosok Mendiang Maestro Kerawitan I Made Subandi, Dikenal Ceria dan Tak Pelit Ilmu
Berikut ini adalah profil singkat dari Maestro Kerawaitan Bali I Made Subandi yang meninggal dunia pada Senin 17 Oktober 2023 malam.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: I Putu Juniadhy Eka Putra
Profil dan Sosok Mendiang Maestro Kerawitan I Made Subandi, Dikenal Ceria dan Tak Pelit Ilmu
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Berikut ini adalah profil singkat dari Maestro Kerawaitan Bali I Made Subandi yang meninggal dunia pada Senin 17 Oktober 2023 malam.
Dunia seni Bali tengah diselimuti kabar duka.
Pasalnya, Pulau Dewata baru saja kehilangan sosok maestro kerawitan.
Nama Made Subandi pun sudah malang melintang di dunia seni tradisional Bali.
Bahkan hampir semua seniman Bali tahu dan mengenal sosoknya sebagai guru. Keterkenalan tersebut tak terlepas dari peran mendiang I Made Subandi dalam mencetak generasi seni unggulan, serta membesarkan sanggar-sanggar seni di Bali lewat sentuhan melodinya yang dikenal ekspresif dan megah.
Semasa hidupnya, Mendiang Subandi mengabdikan hidupnya sebagai guru seni kerawitan di SMK Negeri 3 Sukawati atau dikenal sebagai Kokar Bali.
Ia juga dikenal sebagai salah satu komposer atau pencipta gending untuk festival maupun parade gong kebyar di Pesta Kesenian Bali. Sudah tak bisa dihitung lagi jumlah gending ciptaannya yang digunakan pentas oleh sanggar-sanggar seni di Bali.
Selain sebagai komposer, Subandi juga memiliki sanggar seni binaannya, yaitu Ceraken.
Baca juga: Sosok Mendiang Maestro Subandi di Mata Dedy Tompel, Sempat Kirim Pesan
Dimana sanggar tersebut merupakan basis dari seniman-seniman berbakat Gianyar, yang kerap dipercaya mengisi acara-acara penting. Bahkan Subandi dan sanggarnya itu kerap berkolaborasi dengan pemusik papan atas, salah satunya Balawan.
Tak hanya itu, Subandi yang telah dianugrahi berbagai penghargaan di bidang seni, memiliki banyak murid yang berasal dari berbagai belahan dunia. Biasanya mereka yang dari luar negeri belajar gamelan gender wayang dan alat musik yang bisa dimainkan berdama segelintir orang atau individu.
Sosok Made Subandi Di Mata Sang Adik
Adik sepupu mendiang, Jero Mangku Gede atau karib dikenal sebagai Dedy Tompel, merupakan salah satu orang yang sangat kehilangan sosok Made Subandi.
Menurut Dedy, mendiang bukan hanya sosok kakak, tetapi juga guru.

Mendiang Subandi jugalah orang yang mengarahkannya untuk terjun ke dunia seni tari, hingga kini ia dikenal sebagai Dedy Tompel, yakni sosok pelawak kocak yang leluconnya menginspirasi. Dan, disebut-sebut sebagai salah satu pelawak paling berbakat di Bali.
Selain sebagai pelawak, Dedy Tompel juga dikenal sebagai penggarap tari yang sudah terkenal di kalangan seniman di Bali.
"Selama ini keluarga kami memang dikenal sebagai keluarga penabuh. Lalu beliau bilang sama saya, kamu ngapain ke karawitan, ambil tari satu. Kakak-kakak mu sudah di kerawitan semua, biar ada satu penggarap tari," ujarnya.
Dedy Tompel mengisahkan, selama hidupnya, Mendiang Subandi merupakan sosok seniman yang tidak pelit ilmu.
"Orang ini orang ceria dan tidak pernah pelit ilmu. Kepada siapapun dia tak pernah pelit. Orientasi hidupnya memang untuk seni. Melahirkan berbagai karya yang luar biasa. Dia merupakan tokoh lintas generasi. Generasi tua dia bisa, muda, dan banyak melahirkan seniman luar biasa dari pola pikir liar untuk membentuk seniman berkreativitas tinggi," ungkap Dedy.
Dedy mengungkapkan, sebelum mendiang meninggal, ia tak sadar bahwa ada banyak firasat yang diterimanya.
Satu diantaranya, Subandi mengirimkan pesan WhatsApp pada dirinya, yang berisikan kata yang mengisyatkan mendiang akan pergi jauh.
"Kangwang Bli jadi nyama ane joh, singidang metulungan, tapi bli sayang ajak mangku (mohon diterima, sekarang kakak jadi saudara yang jauh, tidak bisa memberikan pertolongan, tapi kakak sayang sama kamu), saya tidak menyangka itu merupakan tanda-tanda kakak saya akan meninggal," ujar Dedy dengan raut wajah sedih.
Meninggal saat Bermain Tensi Meja
Sebelumnya, I Made Subandi diberitakan meninggal secara mendadak pada Senin 16 Oktober 2023 malam.
Belum diketahui secara pasti penyebab kematian mendiang, namun diduga akibat serangan jantung.
Baca juga: KABAR DUKA - Maestro Kerawitan Bali I Made Subandi Meninggal Usai Main Tenis Meja
Sebelum meninggal, mendiang masih beraktivitas seperti biasa. Bahkan sempat bermain tenis meja bersama temannya.
Ia meninggal di usia 57 tahun.
Teman mendiang, I Nyoman Siman menjelaskan, sebelum meninggal ia bersama Subandi bermain tenis meja sekitar pukul 19.00 Wita. Saat bermain, tidak ada hal aneh dari mendiang. Di mana mendiang bermain seperti biasa.
"Malam sekitar jam 7 malam kami main ping pong di rumah saya. Mainnya santai, menikmati permainan. Tidak ada keanehan apapun. Permainan pertama, dia memang 3:0. Lalu dia main lagi, sampai dua kali permainan. Permainan kedua juga sampai selesai. lalu istirahat. Saat istirahat juga kondisinya bagus. Sempat minum, bicara sama teman juga biasa," ujar Siman.
Setelah bermain tenis meja, mendiang Subandi sempat bangun untuk jalan-jalam kecil masih di seputaran tempat bermain. Namun tiba-tiba tubuh Subandi roboh ke lantai.
"Tiba-tiba jatuh. Sempat digigitkan sendok. Karena tidak kunjung membaik, lalu dibawa ke RS Primagana," ujarnya.

Adik sepupu mendiang, Jero Mangku Gede alias Dedy Tompel mengatakan, menurut dokter di rumah sakit, kakaknya tersebut sudah meninggal dalam perjalanan.
"Kata dokter, sudah meninggal di perjalanan. Karena saat tiba di rumah sakit, kelopak mata melebar dan tubuhnya dingin. Belum bisa dipastikan penyebab kematiannya, tapi diperkirakan serangan jantung," ujar Maestro Lawak Bali tersebut.
Profil I Made Subandi
Dilansir Tribun-Bali dari Wikipedia, I Made Subandi lahir pada bulan Februari 1966.
Ia adalah seorang komposer dan pemain gamelan dari Gianyar, Bali.
Ia belajar dengan ayahnya, penabuh genderang dan pemain wayang gender I Made Dig.
Komposisi Subandi antara lain Bajramusti (1997).
Baca juga: Sosok Maestro Lukis I Dewa Nyoman Batuan Diabadikan dalam Biografi Visual dan Film Dokumenter
Pada tahun 1999, selama residensinya dengan Gamelan Sekar Jaya, ia menggubah soundtrack untuk film bisu Legong: Dance of the Virgins tahun 1933 bersama komposer Amerika Richard Marriott, yang dibuat untuk gamelan Bali, kuartet gesek, terompet, dan klarinet.
Ia juga pernah berkolaborasi dengan trio Belanda Boi Akih dan ansambel Amerika Club Foot Orchestra.
Subandi terkenal karena eksperimennya. Michael Tenzer menggambarkannya sebagai salah satu dari sedikit komposer yang "telah mencapai terobosan mendasar dan sadar diri dengan bentuk tabuh kreasi di masa lalu".
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.